Betlehem Dulu dan Kini
Di imajinasi Kristen global, Betlehem sering hadir sebagai kartu pos beku dari masa lalu—desa kecil yang suci dan sunyi. Padahal Betlehem hari ini adalah kota yang hidup, dikelilingi tembok dan pos pemeriksaan, terfragmentasi oleh sistem pendudukan yang memisahkannya dari Yerusalem dan dari dunia.
Banyak warga Kristiani Palestina, kata Munther, merasa terputus bukan hanya dari kota-kota sekitarnya, tetapi juga dari imajinasi global yang memuliakan Betlehem kuno sambil mengabaikan Betlehem modern. Ironinya tajam: kota kelahiran Yesus dihormati sebagai ide, tetapi penduduknya diabaikan sebagai realitas.
Lebih buruk lagi, sebagian gereja dan politik Barat, menurut Munther, merangkul teologi yang meniadakan keberadaan Kristiani Palestina demi mendukung Israel—kekaisaran kontemporer. Betlehem dipertahankan sebagai simbol, sementara warganya dibiarkan berjuang sendirian.
Solidaritas Ilahi
Apa makna Natal jika dilihat dari perspektif mereka yang masih tinggal di tempat semuanya dimulai?
Bagi Munther, jawabannya sederhana dan radikal: Natal adalah kisah solidaritas Allah. Inkarnasi bukan abstraksi metafisik, melainkan pernyataan politik-teologis tentang di mana Tuhan memilih hadir—di antara yang rentan, miskin, dan diduduki.
Dalam kisah Betlehem, Tuhan tidak berpihak pada kaisar, tetapi pada korban kekaisaran. Ia datang bukan sebagai pejuang, melainkan sebagai bayi. Bukan di istana, tetapi di palungan. Solidaritas ilahi, dalam bentuknya yang paling telanjang.
Bagi warga Palestina hari ini, Natal bukan sekadar doktrin. Ia adalah pengalaman hidup. Kisah sensus yang memaksa Maria dan Yusuf bepergian mengingatkan pada izin, pos pemeriksaan, dan kontrol birokrasi yang membentuk hidup sehari-hari. Pelarian keluarga suci bergema dengan jutaan pengungsi. Kekerasan Herodes menemukan pantulannya dalam kekerasan masa kini—terutama di Gaza, tempat genosida masih berlangsung.
Perayaan sebagai Ketahanan
Betlehem kembali merayakan Natal setelah dua tahun tanpa perayaan publik. Keputusan ini, kata Munther, menyakitkan sekaligus perlu. Tidak ada ilusi bahwa perang telah usai. Anak-anak masih terbunuh. Pengepungan masih berlangsung.
Namun perayaan ini adalah tindakan ketahanan—pernyataan bahwa Kristiani Palestina masih ada, bahwa Betlehem tetap ibu kota Natal, dan bahwa kisah ini tidak boleh diputus. Merayakan Natal di tengah kehancuran bukan pengingkaran atas penderitaan, melainkan penegasan untuk tidak menyerah pada keheningan yang dipaksakan.
Munther mengakhiri refleksinya dengan undangan kepada gereja global, terutama di Barat: ingatlah di mana kisah ini dimulai. Ingatlah bahwa Betlehem bukan mitos, melainkan kota nyata dengan manusia nyata yang masih berseru untuk keadilan, martabat, dan perdamaian.
Mengingat Betlehem, tulisnya, adalah mengingat bahwa Allah berdiri bersama yang tertindas—dan bahwa para pengikut Yesus dipanggil untuk melakukan hal yang sama.***





Tinggalkan Balasan