Para pedagang, eksekutif, dan analis minyak memperingatkan bahwa dunia belum sepenuhnya memahami keparahan situasi ini.
Banyak yang menarik perbandingan dengan guncangan minyak era 1970-an, dan mewanti-wanti bahwa penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berpotensi memicu krisis yang lebih besar.
Tekanan Ganda bagi Indonesia
Lonjakan harga minyak dunia berpotensi menekan APBN 2026, mendorong pemerintah memperkuat pengendalian subsidi energi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menyebut dinamika Timur Tengah sebagai faktor ketidakpastian utama yang dapat mengganggu ketahanan fiskal Indonesia.
APBN 2026 disusun berdasarkan asumsi harga minyak USD70 per barel. Setiap kenaikan USD1 di atas asumsi itu berpotensi menambah beban subsidi hingga Rp7 triliun.
Dengan harga kini melampaui USD100, celah fiskal yang harus ditanggung pemerintah sudah mencapai ratusan triliun rupiah.
Pemerintah menyiapkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun sebagai bantalan, termasuk untuk menjaga harga BBM subsidi tetap stabil.***




Tinggalkan Balasan