Morgan Stanley proyeksikan tiga skenario harga minyak pascablokade Selat Hormuz. Skenario terburuk: harga melambung USD150–180 per barel dan resesi global. Pemulihan penuh baru terjadi Oktober 2026.
KOSOGSATU.ID – Morgan Stanley mempertahankan proyeksi harga minyak mentah Brent di USD110 per barel untuk kuartal II-2026 dan USD100 per barel untuk kuartal III-2026.
Ini terjadi di tengah blokade Selat Hormuz yang kian memperketat pasokan energi global.
Dalam analisis tiga skenario yang beredar luas di kalangan investor, Morgan Stanley memproyeksikan harga Brent bisa bertahan di kisaran USD80–90 per barel jika selat kembali normal dalam satu bulan.
Jika blokade berlangsung berbulan-bulan dengan Iran tetap memegang kendali, harga bisa melambung ke USD150–180. Dalam skenario terburuk itu, obligasi diperkirakan mengungguli saham.
Blokade Resmi, Pasar Bergejolak
CENTCOM menyatakan pasukan lautnya mulai memberlakukan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran, berlaku sejak Senin (13/4) pukul 10.00 waktu setempat.
Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 7 persen ke kisaran USD102 per barel — naik 40 persen sejak perang dimulai. WTI melonjak sekitar 7,8 persen ke USD104 per barel.
Blokade ini menyusul kegagalan perundingan akhir pekan di Islamabad. Wakil Presiden JD Vance menyatakan negosiasi gagal karena Iran tidak memberikan komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
Gangguan pasokan ini sebagian diredam oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang mengalihkan minyak melalui pipa yang melewati Selat Hormuz.
AS dan negara lain juga merilis cadangan minyak strategis dalam jumlah rekor untuk meredam lonjakan harga.
Pemulihan Butuh Berbulan-bulan
Morgan Stanley memperkirakan rantai pasokan minyak akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih, bahkan jika Selat Hormuz berhasil dibuka kembali.
Dalam skenario dasar mereka, ekspor melalui selat akan tetap rendah sepanjang April 2026, baru pulih sekitar 70 persen dari volume yang hilang antara Mei hingga Juli, dan mencapai kondisi stabil pada Oktober 2026.
Para pedagang, eksekutif, dan analis minyak memperingatkan bahwa dunia belum sepenuhnya memahami keparahan situasi ini.
Banyak yang menarik perbandingan dengan guncangan minyak era 1970-an, dan mewanti-wanti bahwa penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berpotensi memicu krisis yang lebih besar.
Tekanan Ganda bagi Indonesia
Lonjakan harga minyak dunia berpotensi menekan APBN 2026, mendorong pemerintah memperkuat pengendalian subsidi energi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menyebut dinamika Timur Tengah sebagai faktor ketidakpastian utama yang dapat mengganggu ketahanan fiskal Indonesia.
APBN 2026 disusun berdasarkan asumsi harga minyak USD70 per barel. Setiap kenaikan USD1 di atas asumsi itu berpotensi menambah beban subsidi hingga Rp7 triliun.
Dengan harga kini melampaui USD100, celah fiskal yang harus ditanggung pemerintah sudah mencapai ratusan triliun rupiah.
Pemerintah menyiapkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun sebagai bantalan, termasuk untuk menjaga harga BBM subsidi tetap stabil.***






Tinggalkan Balasan