”Tidak ada bunuh-bunuhan seperti dongeng dalam Serat Pararaton. Prasasti Mula Malurung justru mengisahkan Ken Arok meninggal di atas singgasana, tidak terbunuh, dan tidak sedang makan,” tegas Kiai Agus. Beliau juga mempertanyakan logika sejarah Pararaton, mengingat seorang raja tentu memiliki tempat makan khusus dan tidak mungkin bersantap di atas singgasana keramat.
Motif Politis Mengaburkan Kejayaan Islam di Nusantara
Selain meruntuhkan mental pejuang, Belanda memiliki agenda politik lain yang jauh lebih besar: mengaburkan fakta kebesaran Islam di Tanah Jawa. Jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di Nusantara pada abad ke-16, Jawa telah mencapai kemajuan pesat di bawah naungan kesultanan Islam, seperti Demak, pada abad ke-15.
Untuk membenarkan praktik penjajahan mereka, kolonial Belanda harus membangun narasi bahwa mereka datang untuk memodernisasi Tanah Jawa yang masih primitif dan penuh mistis. Oleh karena itu, Belanda mempromosikan Kitab Pararaton—yang penuh dengan nuansa supranatural, sihir, dan takhayul—sebagai sumber rujukan utama sejarah silsilah raja-raja Jawa. Taktik ini berhasil menggeser fokus masyarakat dari sejarah kemajuan peradaban Islam Nusantara menuju narasi mistis masa lalu yang telah Belanda rekayasa.
Cacat Akademis dan Jejak J.L.A. Brandes
Secara akademis, kredibilitas Kitab Pararaton sangat lemah. Tidak ada satu pun ahli yang mengetahui siapa penulis asli naskah kuno ini.
Teks ini baru mendapat perhatian luas setelah Jan Laurens Andries Brandes, seorang ahli filologi kolonial Belanda, menerjemahkannya pada tahun 1896. Brandes sendirilah yang memberikan judul “Pararaton“, karena naskah aslinya hanya memuat kalimat pengantar “katuturanira Ken Angrok” atau Kisah tentang Ken Angrok.
Banyak sejarawan modern mulai meragukan teks ini sebagai sumber sejarah faktual. Sejarawan Asia Tenggara di EFEO Paris, Wayan Jarrah, mencatat bahwa salinan teks ini di Bali berasal dari tahun 1613 M dan 1638 M, jauh dari era Singasari yang sebenarnya.
Pakar sejarah C.C. Berg turut memperkuat keraguan ini. Berg menyimpulkan bahwa teks Pararaton secara keseluruhan bersifat supranatural dan ahistoris. Penulis anonim tersebut menggubah naskah ini bukan untuk merekam fakta masa lalu secara akurat, melainkan untuk memperkuat legitimasi kekuasaan dengan mengaitkan raja-raja dengan hal-hal gaib dan kutukan.




Tinggalkan Balasan