Historiografi bangsa Indonesia membutuhkan pembacaan yang kritis dan analitis. Kisah Ken Arok dalam Serat Pararaton adalah contoh nyata bagaimana penjajah menggunakan karya sastra sebagai alat propaganda politik untuk memanipulasi identitas, meruntuhkan kebanggaan, dan mengaburkan fakta sejarah Nusantara.
Sejarawan dan generasi penerus bangsa harus berani memisahkan antara fakta empiris dari prasasti dengan mitos fiktif warisan kolonial, agar kita bisa merebut kembali narasi kebesaran sejarah kita sendiri.***
Daftar Pustaka:
- Berg, C.C. (1950). Kidung Sundayana: Babak dalam Sejarah Majapahit. (Kajian Ahistoris Sastra Jawa Pertengahan).
- Brandes, J.L.A. (1896). Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Batavia: Albrecht & Rusche.
- Museum Ullen Sentalu. (2022). Pararaton: Kitab Rekayasa Belanda? Yogyakarta: Publikasi Kajian Sejarah Ullen Sentalu.
- Sunyoto, Agus. (2017). Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah. Tangerang Selatan: Pustaka IIMaN.
- Suwardi. (2008). Manunggaling Ken Arok dan Serat Pararaton. Jakarta: Jurnal Sejarah dan Budaya.
Halaman


Tinggalkan Balasan