Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi Trump tak akan bertahan jika harga minyak menyentuh USD150 per barel, sementara Indonesia masih terlindungi subsidi APBN.


KOSONGSATU.ID – Pernyataan mengejutkan meluncur dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia memprediksi kekuasaan Presiden AS Donald Trump bisa goyah jika harga minyak mentah dunia melonjak hingga USD150 per barel — jauh sebelum Indonesia perlu khawatir.

“Coba anda lihat, sekarang saja Amerika sudah kelabakan kan? USD100 saja di sana BBM-nya naik hampir 100 persen, rakyatnya mulai marah. Makanya, si Trump langkahnya agak berbeda, kan? Bisa sampai USD150? Jatuh Trump sudah. Bukan kita yang jatuh, tetapi di sana. Kalau kita masih dijaga di sini,” tegas Purbaya di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (25/3/2026) pekan lalu.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Konflik AS-Israel versus Iran telah mendongkrak harga Brent ke level USD112 per barel pada akhir Maret 2026 — tertinggi sejak Juli 2022. Sementara WTI bergerak di kisaran USD101–103 per barel.

APBN Jadi Benteng Indonesia

Di AS, lonjakan itu dilaporkan langsung dirasakan warganya. Tak ada subsidi yang menahan. Harga BBM di pompa bensin melejit hampir 100 persen dan memicu kemarahan publik. Tekanan inilah yang membuat Trump mulai mencari jalan agar Selat Hormuz bisa kembali dibuka.

Indonesia, kata Purbaya, berada di posisi yang sangat berbeda. Subsidi dan kompensasi energi dari APBN masih mampu bertindak sebagai bantalan kejut. Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 dipatok USD70 per barel, dan selama harga tertahan di kisaran USD100, ruang fiskal masih cukup untuk menjaga daya beli masyarakat.

Purbaya juga menepis prediksi sejumlah ekonom yang menyebut Indonesia akan segera masuk resesi. Menurutnya, prediksi berbasis skenario harga minyak USD200 per barel sama sekali tidak masuk akal — karena pada level itu, seluruh dunia sudah lebih dulu masuk jurang resesi, termasuk negara-negara produsen minyak itu sendiri.

“Kalau harga minyak USD200 per barel, semua dunia resesi. Tenang saja, nggak usah pusing. Jadi asumsinya nggak masuk akal,” tegasnya.