Tekanan musuh tak menyurutkan langkah Iran. Peneliti Rusia justru menemukan kekuatan patriotisme luar biasa di balik krisis.


KOSONGSATU. ID – ​Mengamati Iran dari kejauhan sering kali hanya membuahkan analisis politik yang kaku. Namun, dua peneliti asal Rusia baru-baru ini menangkap sebuah realitas yang jauh lebih hidup di lapangan.

Mereka melihat benang merah yang menyatukan bangsa Iran; bukan sekadar doktrin ideologi, melainkan rasa memiliki yang mengakar kuat terhadap tanah air.

Merapatkan Barisan di Tengah Ancaman

​Alexander Obrosimov, peneliti dari Pusat Kajian Arab dan Islam, Institut Oriental Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, mengamati perubahan sikap yang menarik di Iran.

Agresi yang bertubi-tubi dari musuh-musuh mereka, terutama Amerika Serikat dan Israel, tidak lantas membuat negara itu pecah. Sebaliknya, tekanan tersebut memicu gelombang solidaritas nasional yang masif.

​Menurut Obrosimov dalam laporannya kepada IRNA pada Senin, 27 April 2026, masyarakat Iran sebenarnya memiliki latar belakang etnis dan agama yang sangat beragam. Menariknya, ketika krisis melanda, perbedaan internal itu seketika memudar.

Mayoritas rakyat sepakat bahwa kemerdekaan dan keamanan negara adalah nilai utama yang harus mereka jaga bersama.

Ambisi Membangun Masa Depan

​Masyarakat Iran tidak melihat perang dan ancaman eksternal semata-mata sebagai strategi musuh untuk menekan pemerintah. Mereka menyadari bahwa serangan tersebut mengancam seluruh tatanan masyarakat.

Kesadaran kolektif inilah yang membuat kelompok dengan pandangan politik berseberangan sekalipun lantang menyuarakan pentingnya persatuan di masa sulit.

​Lebih jauh lagi, rasa bangga terhadap sejarah dan budaya memacu mereka untuk terus bertahan. Obrosimov mencatat bahwa rakyat Iran meyakini negara yang kuat tidak cukup hanya merdeka. Mereka memendam gairah besar untuk membangun negara yang sukses, modern, dan memiliki stabilitas internal.

Tiga kata kunci—patriotisme, ketahanan, dan gairah maju—kini menjelma menjadi senjata nyata bagi mereka.

​”Jan Fada”: Angka yang Berbicara Lebih Keras dari Propaganda

​Ketahanan sosial ini bukan sekadar teori. Andrey Lukashov, Peneliti Senior Institut Filsafat Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, menemukan bukti konkret yang mengejutkan dunia. Ia meneliti tingkat kesiapan warga dari berbagai belahan dunia untuk turun ke medan perang membela tanah air mereka.

Hasilnya, Iran menunjukkan anomali yang luar biasa.

​Melansir dari IRNA dan Pars Today (27/4/2026), ajakan mendaftar dalam kampanye nasional “Jan Fada” (Siap Berkorban) di Iran telah melampaui angka 30 juta partisipan, dan jumlah ini masih terus merangkak naik. Lebih dari sepertiga total populasi secara sukarela mendaftar untuk membela negara mereka.

​Lukashov menegaskan bahwa tingginya angka pendaftaran kampanye ini merupakan indikator penting yang merefleksikan kuatnya sistem pemerintahan dan ketahanan negara.

Menembus Batas Klise

​Seorang filsuf Rusia tidak sedang melempar pujian; ia menganalisis sebuah fenomena sosial yang langka. Ketika sepertiga penduduk suatu negara secara sadar mendaftarkan nama mereka sebagai martir yang siap berkorban, kita tidak lagi berbicara tentang hasil cuci otak atau propaganda pemerintah.

​Angka partisipasi “Jan Fada” menunjukkan tingkat kohesi sosial yang amat dalam. Pada akhirnya, patriotisme dan ketahanan nasional di Iran bukanlah kata-kata klise. Di bawah bayang-bayang ancaman eksistensial yang nyata, rakyat Iran membuktikan bahwa kecintaan pada tanah air adalah benteng terkuat yang tidak mudah diruntuhkan. ***