Washington menyiapkan langkah mengalihkan aset Iran untuk perbaikan infrastruktur Teluk yang rusak akibat perang. Sementara mediasi Pakistan di Teheran berjalan di ujung tanduk.

KOSONGSATU.ID — Pemerintah Amerika Serikat sedang menyusun rencana untuk mengalihkan aset-aset Iran guna membiayai rekonstruksi infrastruktur negara-negara Teluk yang porak-poranda akibat konflik yang kini memasuki hari ke-100.

Bessent telah mengarahkan tim khusus untuk meminta estimasi komprehensif dari sekutu-sekutu AS di Teluk mengenai biaya perbaikan kerusakan yang ditimbulkan Iran sejak konflik meletus.

Lebih dari delapan puluh fasilitas minyak, gas, dan infrastruktur vital di kawasan Teluk telah terdampak — dengan estimasi kerusakan yang dilaporkan mencapai sekitar USD58 miliar.

AS juga akan mempertimbangkan penggunaan aset Iran untuk membiayai perbaikan kerusakan yang telah terjadi, dengan menggunakan seluruh kewenangan yang tersedia. Jenis aset yang dimaksud belum dirinci secara spesifik, dan bahasanya tidak terbatas pada dana beku semata.

Gencatan Senjata di Tepi Jurang

Di lapangan, ketegangan terus membara. Militer AS menembak jatuh dua pesawat nirawak Iran di Hormuz pada Sabtu, setelah sehari sebelumnya menghancurkan empat pesawat nirawak Iran lainnya di jalur perairan yang sama.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada 8 April 2026 secara teknis masih berlaku, namun kedua pihak telah beberapa kali saling menyerang, dengan masing-masing pihak saling menuding telah melanggar perjanjian.

Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News Meet the Press yang tayang 7 Juni 2026, Presiden Donald Trump memberikan gambaran tentang kondisi militer Iran saat ini. “Mereka masih memiliki sejumlah rudal dan pesawat nirawak. Saya kira, secara persentase, mungkin sekitar 21–22 persen dari rudal mereka. Jumlahnya masih banyak, tapi tidak sebanyak ketika kami pertama kali menyerang,” ujar Trump.

Namun klaim itu tidak sepenuhnya tak terbantahkan. Laporan New York Times menyebut bahwa pemaparan intelijen AS kepada anggota kongres bulan lalu mengindikasikan Iran berhasil memulihkan kendali operasional atas 30 dari 33 instalasi rudalnya.

Mediasi Pakistan Hadapi Jalan Berliku

Di garis diplomasi, Pakistan terus berupaya mempertemukan kedua pihak. Naqvi tiba di Teheran pada Sabtu malam dan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu, 7 Juni 2026.

Naqvi menyampaikan surat khusus dari Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Jenderal Lapangan Asim Munir untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei — yang baru naik ke posisi tertinggi setelah ayahnya tewas pada hari pertama perang, 28 Februari 2026.

Namun jalur perundingan masih tersandera satu syarat berat. Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan kepada CNN bahwa kesepakatan damai bergantung pada pencairan USD24 miliar aset Iran yang dibekukan AS.

Rencana AS untuk mengalihkan aset Iran justru berpotensi mempersulit posisi negosiator — karena apa yang Teheran tuntut sebagai syarat damai, kini hendak dialihkan Washington untuk membiayai rekonstruksi musuh-musuhnya di Teluk.***