Sriwijaya, Gowa-Tallo, dan Aceh membangun kekuatan maritim Nusantara berabad-abad.
KOSONGSATU.ID—Sebelum Eropa menguasai lautan, Nusantara telah lebih dulu menjadi pusat logistik dunia. Tiga kerajaan besar—Sriwijaya, Gowa-Tallo, dan Aceh—membuktikan bahwa menjadi raksasa maritim tidak perlu meniru model Barat. Cukup dengan memahami laut, menghormati ilmu, dan berani bersekutu.
Sejarawan maritim Universitas Indonesia, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum, menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar negara kepulauan, melainkan “negara di lautan yang ditaburi pulau-pulau”. Konsep ini, menurutnya, telah dipahami leluhur Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka.
“Laut sebagai orientasi, laut sebagai masa depan, dan bahkan kesejahteraan juga berada di laut,” ujar Prof. Susanto dalam wawancara dengan Dispen TNI Angkatan Laut, Februari 2023 .
Sriwijaya: Penguasa Selat Malaka Abad ke-7
Kerajaan Sriwijaya menjadi representasi kekuatan maritim terbesar pada masanya. Berpusat di Palembang, Sumatera Selatan, kerajaan ini menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dan Selat Sunda dari abad ke-7 hingga ke-11 Masehi .
Catatan sejarah Tiongkok menjadi sumber primer yang mengonfirmasi kejayaan Sriwijaya. Pendeta Buddha I-Tsing, yang singgah di Sriwijaya pada 671 M dalam perjalanannya dari Kanton ke India, mencatat bahwa kerajaan ini telah menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Ia kembali singgah pada 695 M dan melaporkan bahwa Kedah di pantai barat Semenanjung Melayu telah menjadi wilayah kekuasaan Sriwijaya.
Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang, bertarikh 682 M, mencatat pendirian Kerajaan Sriwijaya oleh Dapunta Hyang. Prasasti ini menjadi bukti tertua keberadaan kerajaan maritim tersebut, menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu kuno.
Pada puncak kejayaannya abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, Sriwijaya mengendalikan jalur perdagangan dari Tiongkok, India, hingga Jazirah Arab. Kekuasaannya membentang dari pesisir barat Semenanjung Malaya, Thailand selatan, hingga Jawa bagian barat. Sebuah prasasti dari tahun 775 M bahkan menyebut penguasa Sriwijaya sebagai “raja yang dipertuan… raja tertinggi di antara semua raja di muka bumi”.
Yang membedakan Sriwijaya dari kekaisaran Eropa adalah konsep pertahanannya. Alih-alih membangun benteng batu di pesisir, mereka mengandalkan penguasaan teknologi pelayaran dan pemahaman mendalam tentang kondisi laut. Perairan Nusantara sendiri menjadi “benteng alami” yang sulit ditembus musuh.
Namun, kejayaan Sriwijaya mulai meredup setelah serangan Rajendra Chola I dari dinasti Chola, India Selatan, pada tahun 1017 dan 1025 M. Prasasti Tanjore tahun 1030 mencatat bahwa Kerajaan Chola berhasil menaklukkan wilayah-wilayah Sriwijaya dan menawan rajanya, Sangrama-Vijayottunggawarman.
Faktor lain seperti munculnya kerajaan-kerajaan baru di Jawa dan masuknya Islam ke Nusantara turut mempercepat keruntuhan Sriwijaya .




Tinggalkan Balasan