Ironisnya, justru sifat “tidak instan” inilah yang membuatnya tersisih dari kebijakan dan pasar. Padahal, di tengah meningkatnya penyakit metabolik dan kerentanan pangan, karakter gizi yang stabil bukan kekurangan—melainkan kebutuhan.

Uwi ungu seolah mengingatkan bahwa pangan terbaik tidak selalu yang paling cepat memberi energi, melainkan yang paling cermat bekerja sama dengan tubuh. Di situ, masa lalu pangan Nusantara justru bertemu dengan masa depan kesehatan.***

  • Dirangkum dari berbagai sumber.