​Pernyataan ini langsung mendapat sanggahan keras. Logika tersebut mengabaikan fakta bahwa pengeboman bisa berhenti seketika apabila pihak militer menghentikan perintahnya, dan perbatasan bisa langsung terbuka jika blokade dicabut. Pembunuhan terus berlanjut karena kekuasaan politik—terutama dukungan militer dari Amerika Serikat—membiarkannya berlanjut.

​Teddy juga membanggakan partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (Dewan Perdamaian) yang diketuai seumur hidup oleh Donald Trump. Analis dari lembaga seperti Chatham House memperingatkan bahwa kerangka kerja ini justru merusak kedaulatan Palestina. Israel dan AS masih memegang kendali penuh, menyeleksi komite administratif, dan memisahkan Gaza dari Tepi Barat. Ini bukanlah kedaulatan, melainkan sekadar administrasi yang diawasi oleh pihak luar.

​Kritik Keras dari Dina Sulaeman

​Sorotan terhadap pernyataan Seskab juga datang dari pakar geopolitik Timur Tengah, Dina Sulaeman. Menanggapi narasi yang berkembang, Dina melalui akun X pribadinya memberikan komentar menohok terkait klaim keberhasilan diplomasi tersebut.

​Ia mencuit menyoroti membingkai hilangnya ratusan nyawa di Gaza sebagai ‘kemajuan’ adalah bentuk penghalusan genosida yang berbahaya. Nyawa rakyat Palestina bukan sekadar angka di grafik statistik politisi. Selama AS menjadi pelindung utama penjajahan dan kedaulatan diserahkan pada institusi asing, tak ada perdamaian sejati.

“Menteri Sekretaris Kabinet Indonesia, Teddy Indra Wijaya, baru-baru ini berupaya membela posisi pemerintah terkait situasi di Jalur Gaza. Pembelaannya didasarkan pada dua klaim. Ia mengatakan bahwa korban jiwa telah “menurun secara signifikan” dalam enam bulan setelah kesepakatan diplomatik yang ditandatangani di Sharm El-Sheikh pada Oktober 2025″, cuit Dina di akun X pribadinya.

“Alih-alih lebih dari 70.000 warga Palestina tewas selama puncak serangan Israel pada tahun 2024 dan 2025, ia mengatakan bahwa jumlah kematian telah turun menjadi sekitar 600 hingga 1.000 orang. Ia juga berpendapat bahwa kekerasan tidak dapat berhenti seketika dan korban jiwa akan terus berlanjut meskipun intensitasnya menurun.