Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencapai Rp 3.085.000 per gram pada 28 Februari 2026. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan emas domestik.


KOSONGSATU.ID–Alih-alih memicu kepanikan beli atau kekhawatiran gelembung harga, reli emas justru membuka diskursus baru: apakah emas kini menjadi kebutuhan strategis dalam portofolio, bukan sekadar pilihan?

Ketidakpastian Global Meningkat

Laporan World Gold Council pada Januari 2026 mencatat pembelian bersih bank sentral global mencapai 863 ton sepanjang 2025. Permintaan global menembus USD555 miliar, naik 45 persen dibanding tahun sebelumnya.

Langkah ini dipicu kekhawatiran atas utang Amerika Serikat yang telah melampaui USD38 triliun pada awal 2026, serta meningkatnya tensi geopolitik dan fragmentasi ekonomi dunia.

Dalam konteks ini, emas dipandang sebagai aset netral. Ia tidak bergantung pada stabilitas satu negara, tidak memiliki risiko gagal bayar, dan tidak bisa dicetak seperti mata uang fiat.

Sinyal dari Lembaga Keuangan Global

Sejumlah bank investasi memperkirakan tren kenaikan harga emas masih berlanjut.

Gregory Shearer, Head of Base and Precious Metals Strategy J.P. Morgan, dalam laporan 16 Desember 2025 menyatakan, “Permintaan emas memiliki daya tembak yang cukup untuk terus mendorong harga menuju USD5.000 per ounce pada 2026.”