​Emas Antam anjlok Rp53.000 per gram akibat tekanan dolar AS.


KOSONGSATU.ID – ​Pergerakan harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami fluktuasi yang sangat ekstrem menjelang akhir pekan di pertengahan Maret 2026.

Logam mulia yang selama ini menjadi primadona investasi masyarakat Indonesia harus menerima kenyataan pahit. Harga emas Antam tergelincir tajam.

Tekanan koreksi ini memaksa harga emas domestik meninggalkan level psikologis Rp3 juta yang selama ini dibanggakan oleh para pemodal.

​Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan awal tahun.

Pada 29 Januari 2026 lalu, harga emas Antam sukses mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH). Saat itu, harganya menembus level Rp3.168.000 per gram.

Namun, memasuki pekan ketiga bulan Maret, rentetan nasib buruk mulai membayangi aset aman ini. Puncaknya terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026. Harga emas Antam anjlok parah hingga Rp53.000 hanya dalam tempo sehari. Kini, emas Antam terpuruk di angka Rp2.943.000 per gram. Kejatuhan ini adalah rekor koreksi harian terbesar dalam sepekan terakhir.

​Lebih mengerikan lagi, harga pembelian kembali atau buyback juga ikut hancur lebur. Harga buyback merosot tajam sebesar Rp83.000 dalam sehari, jatuh ke level Rp2.665.000 per gram. Situasi ini langsung memicu kepanikan di kalangan investor.

​Jebakan Selisih Harga yang Lebar

​Analis di Gotrade, Rendy Andriyanto, pada Kamis (19/3/2026) menjelaskan bahwa fenomena ini murni akibat faktor eksternal.

“Harga emas Antam di Indonesia mengalami penurunan tajam pada Kamis (19/3/2026). Penurunan tajam ini berbanding terbalik dengan pergerakan sehari sebelumnya, disebabkan sikap The Fed dan Dolar AS menguat,” tegas Rendy.

​Kejatuhan harga yang diiringi ambruknya harga buyback menciptakan masalah baru bagi pelaku pasar.

Saat ini terdapat spread atau selisih harga beli dan jual yang sangat lebar, yakni mencapai Rp278.000 per gram. Selisih yang luar biasa besar ini sangat memengaruhi margin keuntungan, terutama bagi para investor ritel berorientasi jangka pendek.

​Bagi mereka yang membeli emas dengan niat trading kilat saat harga memuncak di bulan Januari lalu, menjual emas pada hari ini sama dengan menelan kerugian besar. Oleh karena itu, para ahli pasar menyarankan agar investor ritel menahan diri. Jangan melakukan panic selling atau aksi jual panik.

​Pantau Level Dukungan

​Di pasar global, harga emas spot sebenarnya masih tertahan di kisaran USD5.004 per troy ounce. Namun, nilai tukar Rupiah yang stabil namun cenderung tertekan di kisaran Rp16.890-an per Dolar AS membuat harga emas domestik semakin liar.

Pengamat Pasar Komoditas, Ibrahim Assuaibi, pada Rabu (18/3/2026) turut memetakan arah pergerakan selanjutnya. ​“Jika turun, support pertama di Rp 2.972.000 dan support kedua di Rp 2.920.000,” papar Ibrahim.

​Meski harga sedang babak belur, sentimen global sebenarnya belum sepenuhnya pulih. Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Iran dan Israel, masih menjadi faktor penahan jatuhnya harga lebih dalam.

Ketidakpastian jalur distribusi logistik global ini membuat emas masih relevan. Bagi investor jangka panjang, koreksi gila-gilaan ini justru bisa dilihat sebagai diskon besar. Ini momentum yang pas untuk melakukan aksi serok bawah atau buy on weakness demi memproteksi kekayaan dari ancaman hiperinflasi. *