Menyerap Gagasan Sosialisme Islam

Walaupun Soekarno menyerap ilmu dari berbagai sumber, termasuk membaca pemikiran Karl Marx dan George Washington, ajaran Tjokroaminoto tentang Sosialisme Islam meninggalkan jejak ideologis yang paling pekat. Tjokroaminoto menolak anggapan bahwa sosialisme bertentangan dengan agama. Sebaliknya, ia menjadikan Islam sebagai energi moral untuk melawan ketidakadilan.

Dalam pandangan Tjokroaminoto, sosialisme berprinsip saling bertanggung jawab antar-sesama, sebuah nilai yang sudah Rasulullah praktikkan sejak 13 abad silam.

“Sosialisme hanyalah bisa menjadi sempurna apabila tiap-tiap manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri saja sebagai binatang atau burung, tetapi hidup untuk keperluan masyarakat bersama… karena segala apa saja berasal dari Allah Yang Maha Kuasa,” tulis Tjokroaminoto dalam bukunya, Islam dan Sosialisme (1963).

Pemahaman ini membentuk kerangka berpikir Soekarno. Ia menyadari bahwa Islam, Nasionalisme, dan Sosialisme bukanlah tiga kutub yang harus saling meniadakan, melainkan kekuatan yang bisa menyatu untuk memerdekakan bangsa. Gagasan persatuan ini kelak tercermin dalam konsep NASAKOM dan perumusan Pancasila.

Penyempurnaan Spiritual di Balik Jeruji Besi

Meskipun Tjokroaminoto telah meletakkan fondasi keislamannya, Soekarno mengakui bahwa pemahaman spiritualnya baru mencapai titik paling hakiki justru saat ia mendekam di Penjara Sukamiskin, Bandung.

Tanpa pasokan buku-buku politik yang biasa ia lahap, Soekarno mengalihkan fokusnya untuk mengkaji Al-Quran. Di dalam sel yang sempit itu, pada usia 28 tahun, ia menemukan Tuhan yang tidak terbatas—Tuhan yang meliputi seluruh alam dan Maha Kuasa. Di Sukamiskin lah, Soekarno merasa menjadi penganut Islam yang sebenar-benarnya.

HOS Tjokroaminoto mungkin telah tiada pada 17 Desember 1934, namun perpaduan Islam dan sosialisme yang ia ajarkan berhasil melahirkan generasi pembebas. Lewat tangan dinginnya, Soekarno menjelma dari seorang remaja indekos menjadi proklamator yang menyatukan bangsa.***