Mendikdasmen menyebut MBG membuat siswa lebih rajin ke sekolah. Di sisi lain, ribuan korban keracunan tercatat sejak Juli.
KOSONGSATU.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendongkrak kehadiran siswa di sekolah.
Pernyataan itu disampaikan terkait kerja sama antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang diteken beberapa waktu lalu.
Mu’ti merujuk sejumlah penelitian yang mengaitkan MBG dengan tingkat kehadiran siswa.
Menurut dia, “Jadi banyak anak yang berangkat ke sekolah itu karena akan makan sehat bergizi.”
Ia membandingkan daya tarik MBG dengan kegiatan Jumat Berkah di masjid. Bedanya, MBG berlangsung setiap hari sekolah.
Mu’ti juga memandang MBG sebagai sarana pendidikan karakter: mengantre tertib, menjaga kebersihan, berdoa sebelum dan sesudah makan, serta menghargai makanan.
Dalam laporan yang beredar, belum terlihat rincian metodologi dan sampel penelitian yang dirujuk.
Jangkauan dan Data Penerima
Pada Juni 2026, Mu’ti menyebut MBG telah menjangkau lebih dari 43 juta siswa per 10 Juni, atau 80,7 persen dari sekitar 53 juta sasaran.
Kini, data penerima MBG disebut telah terintegrasi dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan terus disempurnakan agar penerimanya peserta didik yang terdata resmi.
Kepala BGN Sudaryono mengapresiasi dukungan Kemendikdasmen, mulai pembangunan wastafel, alokasi waktu khusus untuk MBG, hingga penguatan edukasi gizi dalam kurikulum.
Keracunan yang Masih Membayangi
Di luar klaim kehadiran, keamanan pangan masih menjadi sorotan. Dalam rapat dengan Komisi IX DPR pada 3 September 2026, Sudaryono melaporkan 5.482 korban keracunan sejak 22 Juli.
Korban itu tersebar dalam 71 insiden yang bersumber dari 62 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurut BGN, lebih dari 80 persen kasus disebabkan pelanggaran prosedur operasi standar, antara lain pengiriman di luar batas waktu aman dan kapasitas dapur yang tidak sesuai jumlah penerima.
Saat itu tercatat 27.022 dapur aktif. BGN menutup sementara sejumlah dapur yang melanggar dan menyatakan tidak akan membantu pengelola bila ditemukan kelalaian atau unsur pidana.
Pernyataan Mu’ti dan data BGN itu menyoroti dua sisi program yang sama: manfaat yang diklaim dan risiko keamanan pangan yang masih harus dibenahi.***




Tinggalkan Balasan