Filsuf Ernest Renan menyebut Islam memusuhi sains, namun sejarah berkata lain. Dari Aljabar hingga metode eksperimental, ilmuwan Muslim justru menjadi fondasi peradaban modern.


KOSONGSATU.ID—Di Paris abad ke-19, di ruang kuliah Sorbonne University, seorang filsuf bernama Ernest Renan melontarkan pernyataan yang mengguncang: Islam, katanya, secara inheren memusuhi sains dan rasionalitas.

Ucapan itu disampaikan dalam kuliah terkenalnya pada 1883, ketika Eropa sedang mabuk modernitas dan penjajahan menjadi mesin ekspansi politik sekaligus narasi intelektual. Dalam atmosfer seperti itu, agama-agama Timur kerap ditempatkan sebagai antitesis dari rasionalitas Barat.

Renan—yang sebelumnya mengguncang dunia Kristen lewat Vie de Jésus (1863) dan mempopulerkan definisi modern bangsa dalam Qu’est-ce qu’une nation? (1882)—tiba pada kesimpulan bahwa kemajuan ilmiah dunia Muslim hanyalah “kecelakaan sejarah”. 

Di titik inilah sains berubah menjadi argumen ideologis.

Sains sebagai Instrumen Ideologi dan Rasialisme

Renan berpendapat ilmuwan Muslim hanya menyalin warisan Yunani tanpa inovasi orisinal. Ia bahkan menyelipkan kategori rasial—membedakan Arya dan Semit—sebagai ukuran kapasitas intelektual. Pandangan tersebut kini dipahami sebagai bagian dari rasialisme ilmiah abad ke-19.

Narasi ini tidak berhenti di Eropa. Ia menyeberang ke wilayah jajahan, membentuk cara pandang administrasi penjajah terhadap masyarakat Muslim. Di Hindia Belanda, orientalis seperti Christiaan Snouck Hurgronje membaca dan memetakan Islam Nusantara dengan pendekatan akademik yang kemudian diterjemahkan ke dalam kebijakan politik. 

Gagasan intelektual pun bersenyawa dengan kepentingan kekuasaan.

Fakta Sejarah: Emasnya Peradaban Ilmiah Islam

Sejarah sains menunjukkan arah berbeda dari tesis Renan. Dunia Islam abad pertengahan justru menjadi salah satu pusat inovasi global.

1. Al-Khwarizmi dan Revolusi Matematika

Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi tidak sekadar menerjemahkan teks Yunani. Ia merumuskan aljabar dan memperkenalkan sistem angka yang menjadi fondasi algoritma modern. 

Tanpa aljabar, dunia komputasi modern—dari komputer hingga GPS—mustahil terwujud. Inovasi ini jauh dari sekadar “salinan”.

2. Ibnu al-Haytham dan Metode Eksperimental

Ibn al-Haytham melalui Kitab al-Manazir (Book of Optics) meletakkan dasar metode ilmiah berbasis eksperimen. Ia menguji hipotesis tentang cahaya dengan observasi sistematis, sebuah pendekatan yang mendahului formalisasi metode ilmiah di Eropa.

3. Ibnu Sina dan Standar Medis Global

Ibn Sina menyusun Al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine), ensiklopedia medis yang menjadi referensi universitas Eropa selama lebih dari enam abad. Karya ini memadukan observasi empiris dan teori medis dalam sistem yang koheren—sebuah sintesis, bukan terjemahan pasif.

4. Al-Jazari dan Mekanika Inovatif

Al-Jazari merancang jam air, automata, dan perangkat mekanik kompleks yang menunjukkan pemahaman matematika dan teknik tingkat tinggi. Di bidang astronomi, observatorium seperti Maragha dan Samarkand mengembangkan instrumen presisi untuk penelitian langit, melampaui standar zamannya. Semua ini menegaskan bahwa tradisi ilmiah Islam bersifat kreatif dan produktif.

Refleksi Pendidikan di Nusantara

Di Indonesia, warisan wacana “Islam anti-sains” bekerja secara halus melalui pemisahan pendidikan agama dan sekolah modern. Pada masa penjajahan, sistem pendidikan dirancang tersegmentasi, melahirkan jarak antara rasionalitas dan religiusitas.

Pemikir Muslim seperti Jamal al-Din al-Afghani membantah asumsi Renan. Menurutnya, kemunduran bukan akibat doktrin agama, melainkan hambatan politik dan sosial yang mengekang kebebasan berpikir. 

Sejarah mendukung argumen ini. Peradaban Islam pernah menjadi jembatan ilmu pengetahuan global—menerjemahkan, mengembangkan, dan mentransmisikan gagasan lintas budaya.

Renan tetap figur penting dalam sejarah intelektual Eropa. Namun, pandangannya tentang Islam dan sains terbukti reduktif. Ia membaca agama melalui lensa zamannya; kita membacanya ulang dengan jarak sejarah. 

Bagi Indonesia, pelajarannya relevan: religiusitas dan rasionalitas bukan dua kutub yang saling meniadakan. Ketika iman memberi arah moral dan akal memberi metode, peradaban menemukan momentumnya.***


Referensi:

  • Ernest Renan, L’Islamisme et la science, ceramah di Sorbonne, 1883.
  • Ibn al-Haytham, Kitab al-Manazir (Book of Optics).
  • Al-Khwarizmi, Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala.
  • George Saliba, Islamic Science and the Making of the European Renaissance.
  • Aydin Sayili, The Observatory in Islam.
  • Ibn Sina, Al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine).
  • Al-Jazari, The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices.
  • Jamaluddin al-Afghani, Refutation of the Materialists.