Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa (24/3/2026), dipicu penguatan indeks dolar AS. Di tengah pelemahan tersebut, peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang yang menguat.


KOSONGSATU.ID – Berdasarkan data Refinitif pada pukul 08.40 WIB (24/3), hampir seluruh mata uang Asia berada di zona merah. Pelemahan terdalam dialami baht Thailand, yang turun 1,24 persen ke level THB 32,66 per dolar AS.

Won Korea Selatan melemah 0,85 persen ke posisi KRW 1.499,1 per dolar AS, disusul dolar Taiwan yang turun 0,36 persen ke level TWD 31,975. Dolar Singapura terkoreksi 0,25 persen ke posisi SGD 1,2783.

Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,15 persen ke level MYR 3,942, sementara yuan China turun 0,14 persen ke posisi CNY 6,8908. Yen Jepang tercatat melemah 0,12 persen ke level JPY 158,62, sedangkan dong Vietnam turun tipis 0,04 persen ke posisi VND 26.349.

Peso Filipina Satu-Satunya Penguat

Di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia, peso Filipina justru menjadi satu-satunya yang menguat. Mata uang negeri tetangga itu naik 0,17 persen ke level PHP 59,802 per dolar AS.

Pergerakan ini menunjukkan ketahanan peso Filipina di tengah tekanan eksternal yang melanda kawasan. Analis menilai fundamental ekonomi Filipina yang solid menjadi salah satu faktor pendukung.

Rupiah Libur, NDF di Bawah Rp17.000

Rupiah pada hari ini belum diperdagangkan di pasar spot domestik—seiring libur cuti bersama pasca-Lebaran. Namun, arah pergerakan rupiah tetap dapat dicermati dari pasar non-deliverable forward (NDF).

Kontrak NDF rupiah tenor satu bulan pada pagi ini berada di kisaran Rp16.964 hingga Rp16.975 per USD. Level ini menunjukkan rupiah di pasar offshore masih bergerak di bawah area Rp17.000, mencerminkan tekanan yang relatif mereda dibanding periode sebelumnya.

Dolar AS Menguat Pasca-Penundaan Serangan Trump

Indeks dolar AS (DXY) pada pagi ini tercatat menguat 0,41 persen ke posisi 99,362. Penguatan ini menjadi pemicu utama tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia.

Kenaikan DXY terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya indeks dolar AS ditutup melemah 0,70 persen ke level 98,950. Pelemahan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Trump mengklaim adanya pembicaraan produktif antara AS dan Iran, sehingga untuk sementara meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi yang lebih besar. Ia meminta Departemen Pertahanan AS menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Bantahan Iran dan Respons Pasar

Meski Trump mengklaim adanya dialog, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya pembicaraan tersebut. Iran menegaskan syarat mereka untuk mengakhiri perang tidak berubah.

Steven Englander, Head of Global G10 FX Research and North America Macro Strategy Standard Chartered, menilai pasar tetap menangkap adanya bentuk komunikasi tertentu antara kedua pihak. Menurutnya, meski belum tentu berarti kesepakatan sudah dekat, pasar untuk sementara memilih mempercayai bahwa ada jalur komunikasi yang sedang berlangsung.***