Berlandaskan ajaran Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Hujurat ayat 10, ia mengingatkan agar dunia muslim yang berbasis iman harus mengedepankan perdamaian (islah) dan persaudaraan demi meraih rahmat Tuhan.

Meskipun pesan persatuan ini jelas, Haedar mengakui implementasinya sangat menantang. Dinamika politik, lalu lintas kepentingan ekonomi, dan konflik internal kelompok sering kali membuat persatuan umat sulit terwujud. “Jangankan di level negara, di level kelompok ummah saja betapa tak mudahnya merawat kemandirian dan persatuan untuk membangun peradaban,” tuturnya.

Menghidupkan Kembali Pencerahan Islam

Sebagai solusi, Haedar mengajak umat Islam menengok kembali sejarah kemajuan peradaban mereka. Pada rentang abad ke-7 hingga ke-13, Islam hadir sebagai agama pencerahan dengan nilai-nilai kosmopolitan yang sukses mempersatukan umat sekaligus mendorong kemajuan ilmu pengetahuan global.

Spirit kosmopolitanisme inilah yang perlu dunia hidupkan kembali untuk menjawab krisis kemanusiaan saat ini. Dengan mengedepankan nilai-nilai inklusif dan adil, Islam tidak hanya berdiri sebagai sumber spiritualitas, tetapi juga harus menjelma menjadi kekuatan moral yang mampu menghadirkan keadilan, perdamaian, dan kemajuan bagi seluruh peradaban manusia.***