Perkembangan AI memicu krisis lingkungan akibat konsumsi energi pusat data yang melonjak drastis.
KOSONGSATU.ID – Perlombaan inovasi kecerdasan buatan menyembunyikan satu ancaman besar yang jarang disadari publik. Teknologi mutakhir ini ternyata menuntut harga mahal yang harus dibayar oleh alam. Dampak lingkungan dari masifnya penggunaan AI kini mulai menjadi sorotan utama lembaga internasional.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sistem AI menguras sumber daya energi dalam jumlah yang fantastis. Satu instruksi atau prompt berbasis AI terbukti mengonsumsi listrik 10 kali lipat lebih besar. Angka ini dibandingkan dengan satu pencarian standar menggunakan mesin pencari Google biasa.
Lonjakan kebutuhan energi ini berbanding lurus dengan tren adopsi AI di tingkat korporasi. Sekitar 88 persen organisasi di seluruh dunia melaporkan telah memakai AI setidaknya pada satu fungsi bisnis di 2025. Angka ini naik signifikan dari 78 persen pada tahun sebelumnya.
Adopsi massal tersebut memaksa perusahaan teknologi membangun lebih banyak pusat data raksasa. Fasilitas komputasi ini menyala tanpa henti selama 24 jam sehari untuk melatih model AI. Dampaknya, beban jaringan listrik global meningkat hingga pada titik yang sangat mengkhawatirkan.
“Masih banyak yang belum kita ketahui tentang dampak lingkungan dari AI,” ungkap Golestan (Sally) Radwan, dikutip Jumat (27/3/2026).
Ridwan adalah sebagai Chief Digital Officer United Nations Environment Programme (UNEP) dalam dokumen UNEP Issue Note yang diterbitkan pada tahun 2025.
Namun, ia menegaskan bahwa sebagian data awal yang telah dikumpulkan saat ini sudah cukup mengkhawatirkan. Pernyataan tersebut menjadi alarm keras bagi para pemangku kebijakan. Pertumbuhan teknologi tidak seharusnya mengorbankan stabilitas ekologi planet ini.




0 Komentar