“Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu,” ujar Hamka dengan penuh kesantunan kepada kawan-kawannya yang mempertanyakan keputusannya.
Makna Persahabatan yang Sesungguhnya
Hubungan Hamka dan Soekarno sejatinya bermula dari persahabatan erat pada zaman perjuangan. Keduanya saling mengagumi, terutama ketika Soekarno melewati “fase Islamis” saat masa pembuangan di Bengkulu. Sayangnya, perbedaan pandangan politik pada pertengahan 1950-an, terutama saat Soekarno menggagas Demokrasi Terpimpin yang mesra dengan golongan komunis, membuat keduanya pecah kongsi.
Meski jalurnya berbeda, nilai persahabatan di mata Hamka tidak pernah luntur. Puluhan tahun sebelumnya, dalam buku Falsafah Hidup, Hamka telah menggarisbawahi prinsip berteman yang tulus. Mengutip Umar bin Khattab, Hamka menulis bahwa kita harus tetap berprasangka baik kepada sahabat sampai ada bukti jelas, dan jangan segera menyalahkan jika masih ada uzur atas kesalahannya.
Hamka membuktikan tulisan tersebut. Ia memisahkan pertentangan pemikiran politik dengan hubungan antarkawan. Ia tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai “sahabat presiden” untuk mencari keuntungan saat Soekarno berkuasa. Sebaliknya, ia membuktikan kesetiaannya saat sang kawan jatuh, dilucuti kekuasaannya, dan telah tiada.
Menghapus Dendam, Menebar Rahmat
Ketika kawan-kawannya menyayangkan keputusannya menyalatkan Soekarno, Hamka menjawab dengan prinsip tauhid yang teguh. Bagi Hamka, sampai akhir hayatnya, Soekarno tetaplah seorang muslim yang berhak menerima penyelenggaraan jenazah yang layak.
Lebih dari itu, Hamka menolak memelihara dendam karena dendam adalah perbuatan dosa. Alih-alih mengingat penderitaan di penjara, Hamka lebih memilih mengingat jasa besar Soekarno bagi umat Islam, seperti pembangunan Masjid Baiturrahim di Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Ia senantiasa berdoa agar kebaikan tersebut meringankan dosa-dosa Soekarno di hadapan Tuhan.
Kisah perseteruan dan perdamaian antara Buya Hamka dan Soekarno memberikan teladan tak lekang oleh waktu bagi bangsa Indonesia. Hamka membuktikan bahwa Islam sungguh mengajarkan prinsip rahmatan lil ‘alamin—agama yang membawa kedamaian, bukan kebencian. Memelihara dendam hanya akan menghancurkan diri dari dalam, sementara memaafkan adalah bentuk kemenangan jiwa yang paling tinggi.***




Tinggalkan Balasan