Di Wangun Sari, Cisolok, Sukabumi, sebuah momentum istimewa terjalin di antara dua kelompok pemuda yang datang dari latar belakang berbeda, namun disatukan oleh semangat yang sama: membangun Indonesia dari bawah.


KOSONGSATU.ID–Ahad, 22 Juni 2025, menjadi saksi dimulainya pembangunan lima unit Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS) yang tergabung dalam program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS).

Program ini digagas oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) dan Dhilal Berkat Rochmat Alloh (DHIBRA) Shiddiqiyyah sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tak hanya dihadiri para tokoh lokal—seperti Kapolres Sukabumi, kepala desa, hingga Babinkamtibmas, hari itu juga diwarnai kehadiran yang tak biasa: 26 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tersebut.

Pertemuan ini bukan sekadar kebetulan. Sekretaris Desa Wangun Sari, Eris Ruswandi, yang telah mengenal OPSHID, sengaja mengundang para mahasiswa untuk ikut menyaksikan seremoni peletakan Batu Syukur.

“Saya ingin mereka saling mengenal. Sama-sama anak muda, sama-sama punya niat baik untuk masyarakat. Siapa tahu bisa saling dukung,” ujar Eris, dikutip dari Opshid Media.

Dan benar saja, dialog yang terjalin di antara mereka menjadi penuh semangat dan rasa saling menghargai.

Thaariq, salah satu mahasiswa UGM, menjelaskan bahwa tim KKN mereka terdiri dari empat klaster: Sosial Humaniora, Medika, Sains-Teknologi, dan Agro. Salah satu program utama mereka adalah membangun perpustakaan desa dan menyusun regulasi peduli lingkungan di kawasan wisata.

Namun, yang paling membekas di hati mereka justru kesan mendalam terhadap program RPS. “Jujur, OPSHID ini sangat membantu masyarakat. Skalanya luas sekali. Kami sangat terbuka jika ada peluang kerja sama lebih lanjut,” kata Thaariq—yang kagum dengan 135 unit RSKILHS yang sedang dibangun di berbagai daerah.

Ketua KKN, Azkiya, pun menyampaikan hal serupa. Ia melihat program RPS bukan hanya membangun rumah, tapi juga mengembalikan hak-hak dasar warga sebagai bagian dari kemerdekaan yang sejati.

“Ini berdampak nyata. Semoga bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak saudara kita yang belum merasakan kemerdekaan dalam arti sesungguhnya,” harapnya.

Wali Talqin Shiddiqiyyah, Suhardono, menyambut pertemuan ini dengan penuh haru dan semangat. “Pemuda ketemu pemuda, dengan semangat yang sama untuk membangun Indonesia,” katanya.

Hari itu, di bawah langit Wangun Sari, tak hanya batu yang diletakkan sebagai pondasi rumah—tapi juga sebuah harapan: bahwa kolaborasi, semangat, dan kepedulian bisa menjadi fondasi kuat untuk masa depan Indonesia yang lebih adil dan manusiawi.***