Di laboratorium Seoul dan London, sains tengah membangunkan kembali kemampuan manusia yang lama dianggap punah: menumbuhkan gigi baru.


KOSONGSATU.ID—Selama puluhan tahun, kedokteran gigi modern bertumpu pada pendekatan mekanis—bor, tambal, implan, dan gigi palsu.

Metode ini efektif, namun invasif, mahal, dan kerap menyisakan rasa takut yang tak kecil. Kini, arah itu mulai bergeser. Para ilmuwan tidak lagi bertanya bagaimana mengganti gigi yang rusak, melainkan bagaimana membuat tubuh menumbuhkannya kembali.

Patch Kecil dari Korea Selatan

Terobosan terbaru datang dari Korea Selatan. Para peneliti mengembangkan plester mikroneedle regeneratif, sebuah patch kecil yang ditempelkan di gusi dan hampir tak menimbulkan rasa nyeri. Teknologi ini bekerja dengan menghambat protein GSK-3, protein yang selama ini bertugas menghentikan pertumbuhan gigi setelah masa kanak-kanak berakhir.

Ketika penghambat itu dimatikan, tubuh melakukan sesuatu yang mengejutkan: ia mengaktifkan kembali mekanisme pembentukan gigi alami, seolah mengingat ulang instruksi biologis yang lama terlupakan.

Membangunkan Sel yang Tertidur

Patch tersebut mengandung tideglusib, obat yang membantu mengaktifkan sel punca gigi yang dorman jauh di dalam gusi dan rahang. Sel-sel ini sebenarnya masih membawa cetak biru genetik pembentuk gigi, namun “tertidur” sejak manusia dewasa. Melalui sistem mikroneedle, obat disalurkan langsung ke titik sasaran—tanpa operasi, tanpa pengeboran.

Hasil uji klinis awal terdengar nyaris utopis: lubang gigi menutup dalam beberapa minggu, enamel yang rusak tumbuh kembali dalam dua bulan, dan pada hampir sepertiga peserta muncul tunas gigi baru—fenomena yang sebelumnya dianggap mustahil pada orang dewasa.

Pendekatan Berbeda dari London

Sementara itu, di Inggris, riset regenerasi gigi mengambil jalur lain. Salah satu tokoh kuncinya adalah Ana Angelova Volponi, direktur program pascasarjana regenerasi gigi di King’s College London. Selama hampir dua dekade, Volponi dan timnya bereksperimen menumbuhkan gigi di laboratorium—bukan sebagai prostetik, tetapi sebagai organ biologis utuh.

Pada 2013, tim ini berhasil menciptakan gigi dari kombinasi sel manusia dan tikus, sebuah tonggak besar dalam dunia sains. Tahun ini, penelitian itu melangkah lebih jauh dengan penemuan material baru yang lebih menyerupai lingkungan alami mulut manusia, membuka jalan untuk sepenuhnya menggunakan sel manusia dalam proses regenerasi.

Menuju Arah yang Sama

Meski berbeda pendekatan, riset dari Korea Selatan dan Inggris bergerak menuju tujuan yang sama: mengembalikan kemampuan regeneratif manusia yang hilang. Satu lewat patch yang membangunkan sel punca di dalam tubuh, yang lain lewat gigi biologis hasil kultur laboratorium.

Jika keduanya berhasil disempurnakan, dokter gigi di masa depan mungkin tak lagi memegang bor atau sekrup titanium. Cukup menempelkan patch atau menanam gigi biologis—dan membiarkan tubuh melakukan sisanya.

Mengapa Ini Penting?

Prosedur penggantian gigi saat ini bukan perkara ringan. Operasi invasif, pemasangan sekrup logam ke tulang rahang, masa tunggu berbulan-bulan, biaya tinggi, dan risiko nyeri menjadi harga yang harus dibayar pasien. Padahal setiap tahun, jutaan orang kehilangan gigi akibat usia, kecelakaan, penyakit gusi, karies, hingga efek samping pengobatan.

Kehilangan gigi bukan hanya soal estetika. Ia memengaruhi cara makan, berbicara, kepercayaan diri, bahkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.