Kenapa negara-negara baru merdeka justru terjerat utang luar negeri? Jawabannya ada di arsitektur keuangan global pascaperang, yang dirancang sejak perjanjian Bretton Woods, munculnya fenomena petrodollar, hingga lahirnya Washington Consensus.
KOSONGSATU.ID — Kita buka dengan kisah bagaimana struktur keuangan dunia dibangun. Berawal di sebuah kota kecil di Amerika Serikat, Bretton Woods, New Hampshire, 1944. Para pemimpin 44 negara sepakat bikin tatanan keuangan baru.
Dari situ, lahir dua pemain utama: IMF yang diplot untuk menjaga stabilitas moneter dan Bank Dunia untuk pembiayaan pembangunan. Dolar dipatok ke emas—dengan nilai USD35 per gram—sementara mata uang lain mengait ke dolar.
Dunia memasuki era kurs tetap yang menjadikan dolar pusat gravitasi ekonomi global.
Tapi, pada dekade 1950-an, hadir sebuah ‘kejutan’, di mana lahirlah pasar Eurodollar di London. Bank-bank Eropa bebas menyimpan dan meminjamkan dolar tanpa aturan AS.
Dari sinilah mengalir “laut dolar”—yang suatu hari bakal menenggelamkan banyak negara berkembang.

Tiga Dunia di Era Perang Dingin
Di tengah rancangan struktur keuangan itulah kemudian muncul istilah “Dunia Ketiga”.
Istilah ini identik dengan “negara miskin” atau “berkembang”. Namun, istilah ini sebenarnya lahir bukan dari perdebatan ekonomi, melainkan dari geopolitik Perang Dingin dan inspirasi Revolusi Prancis?
Pada tahun 1952, seorang demografer Prancis bernama Alfred Sauvy menulis artikel di majalah L’Observateur. Dalam tulisannya berjudul “Trois mondes, une planète” (“Tiga dunia, satu planet”), Sauvy memperkenalkan istilah “Third World” atau “Dunia Ketiga”.
Ia terinspirasi dari konsep tiers état—kaum jelata dalam Revolusi Prancis yang sering diabaikan, namun akhirnya menjadi motor perubahan. Bagi Sauvy, negara-negara baru merdeka di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mirip dengan kaum jelata itu: diabaikan, dieksploitasi, diremehkan, tetapi punya aspirasi untuk menentukan nasib sendiri.
Kalimat Sauvy yang terkenal berbunyi: “Ce Tiers Monde ignoré, exploité, méprisé… veut, lui aussi, être quelque chose.(Dunia Ketiga yang diabaikan, dieksploitasi, diremehkan ini… juga ingin menjadi sesuatu.)”
Kubu yang Terbelah dan Pengklasifikasian
Pada awal 1950-an, dunia sedang terbelah dua. Ada “Dunia Pertama”, yaitu negara-negara kapitalis sekutu Amerika Serikat dan NATO, seperti Eropa Barat, Kanada, dan Jepang. Di bagian lain, ada “Dunia Kedua”, yang terdiri dari blok komunis dipimpin Uni Soviet dan sekutunya di Eropa Timur, serta Tiongkok.
Lalu, ada kelompok negara yang tidak masuk kedua kubu itu, yaitu negara-negara non-blok, yang mayoritas baru merdeka dari kolonialisme. Inilah yang disebut sebagai Dunia Ketiga.
Awalnya, istilah ini murni politik, yang menandai posisi non-blok dalam Perang Dingin. Namun, karena sebagian besar negara non-blok masih miskin, istilah “Dunia Ketiga” lama-kelamaan bergeser makna menjadi “negara miskin dan tertinggal”.
Seiring berjalannya waktu, istilah ini dianggap peyoratif. Setelah Perang Dingin berakhir, masyarakat internasional lebih suka menyebutnya dengan istilah lain: “negara berkembang,” “Global South,” atau menggunakan klasifikasi pendapatan dari Bank Dunia.
Walau sudah jarang digunakan secara resmi, istilah “Dunia Ketiga” tetap membekas dalam ingatan kolektif. Ia bukan sekadar label geopolitik, tetapi cermin bagaimana negara-negara baru merdeka dulu memandang diri mereka: bukan bagian dari blok Barat atau Timur, tetapi sebuah kekuatan baru yang ingin diakui di panggung dunia.




Tinggalkan Balasan