Krisis ini lahir dari penguasa yang miskin kedaulatan batin. Sastrawan besar Taufiq Ismail memotret realitas pahit ini dengan sangat tajam:

“Tragedi bangsa kita bukanlah pada kemiskinan materi, melainkan pada tragedi ‘nol buku sastra’ di sekolah-sekolah kita. Mengabaikan sastra sama dengan mengamputasi nurani, yang pada akhirnya melahirkan manusia tanpa empati.”

Paradoks Sang Pemimpin Literer

Untuk memahami bagaimana sastra membentuk postur kedaulatan, kita harus melihat sosok mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Kisah hidupnya menyimpan paradoks yang menampar kita. Seperti Jean Valjean dalam Les Misérables karya Victor Hugo yang ia kagumi, Khamenei muda pernah mendekam di penjara gelap SAVAK. Ia disiksa, direndahkan, dan dikurung oleh rezim Shah Iran.

Ketika naik menjadi Pemimpin Tertinggi, Khamenei menampilkan wajah pragmatisme yang kompleks. Ia adalah ulama konservatif yang mewajibkan hijab, namun di sisi lain mendorong kemajuan sains perempuan. Ia menolak nilai Barat, tetapi berani mengeluarkan fatwa progresif yang mengizinkan operasi pergantian kelamin secara medis, penggunaan bayi tabung, hingga riset stem cell. Ia bahkan mengharamkan senjata nuklir karena merusak kemanusiaan. Di sela-sela memimpin revolusi, ia tetaplah seorang faqih yang merawat kata, mendorong penciptaan kosakata Farsi baru, dan meyakini bahwa puisi mampu menggerakkan arah bangsa.

Pelajaran dari Akhir Sebuah Epik

Pada 28 Februari 2026 silam, Ali Khamenei berpulang dalam sebuah serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Kematiannya dirayakan oleh sebagian pihak, namun juga diratapi layaknya puisi Hafez yang meneteskan wangi lukanya sendiri. Ia pergi meninggalkan warisan seorang pemimpin yang menolak memperkaya diri dan meyakini literasi sebagai perisai negara.

Sudah saatnya Indonesia berhenti menjadi bangsa yang amnesia. Kita butuh lebih dari sekadar diplomasi ekonomi; kita butuh diplomasi kebudayaan yang berangkat dari rak buku di rumah-rumah kita.

Menemukan kembali Hamzah Fansuri atau Ki Ageng Selo bukanlah bentuk romantisme masa lalu, melainkan fondasi untuk menegakkan tulang punggung masa depan. Sebab, bangsa yang tidak membaca sastranya sendiri adalah bangsa yang sedang menulis draf kematiannya dengan tangan sendiri.***