Kepergian Vidi Aldiano di usia 35 tahun membongkar asumsi lama: kanker ginjal tak lagi sekadar penyakit lansia.


KOSONGSATU.ID—Vidi Aldiano meninggal dunia pada 7 Maret 2026. Usianya baru 35 tahun. Ia telah berjuang sejak didiagnosis kanker ginjal stadium tiga di usia 29 tahun.

Desember 2019, saat teman-teman sebayanya sibuk meniti karier dan merayakan hidup, Vidi justru memulai pertarungan terberatnya. Karsinoma Sel Ginjal—jenis yang paling ganas dan dominan—telah bersarang di tubuhnya.

Fakta ini memukul keras anggapan lama: bahwa kanker ginjal hanya mengintai mereka yang beruban.

Kanker yang Membidik Usia Muda

Secara statistik, kanker ginjal memang paling sering menghampiri pasien berusia 50 hingga 70 tahun. Kasus di bawah 45 tahun tergolong langka.

Tapi Vidi adalah pengecualian yang menyakitkan.

Ia membuktikan bahwa mutasi genetik tak lagi pandang bulu. Bahwa di usia ketika seseorang seharusnya berada di puncak produktivitas, sel-sel ganas bisa diam-diam tumbuh dan mengambil segalanya.

Vidi Aldiano dan ilustrasi kanker ginjal. – Kolase Istimewa

Gen, Rokok, dan Tekanan Darah yang Dibiarkan

Apa pemicunya? Indonesian Cancer Care Community (ICCC) memetakan faktor risikonya dengan jelas.

Pria disebut memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi ketimbang wanita. Kebiasaan merokok sanggup melipatgandakan ancaman. Hipertensi dan obesitas—dua kondisi yang kerap diabaikan anak muda—justru menjadi pintu masuk bagi sel-sel ganas.

Gaya hidup modern yang serba instan dan minim gerak, diam-diam, sedang menggali kuburnya sendiri.

Hitung-hitungan di Balik Angka 1.500 Jiwa

Data Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (2023-2024) dan Globocan menunjukkan angka yang tak bisa diremehkan. Insiden kanker ginjal di Indonesia berkisar 2,4 hingga 3 kasus per 100.000 populasi. Risiko kumulatifnya mencapai 0,11 persen.

Setiap tahun, lebih dari 1.500 jiwa melayang akibat keganasan di organ penyaring darah ini. Mereka menyumbang 0,58 persen dari total kematian akibat kanker di Indonesia.