Nama Jokowi dan Sri Mulyani muncul di arsip rilis DOJ, bukan bukti relasi.
KOSONGSATU.ID–Rilis jutaan dokumen “Epstein Files” oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ) pada 30 Januari 2026 memantik spekulasi global, termasuk di Indonesia. Di media sosial, kemunculan nama tokoh publik kerap dibaca sebagai “keterlibatan”.
Namun, menurut hasil penelusuran terhadap pola dokumen yang dibuka, kemunculan nama rupanya tidak otomatis adanya relasi personal, apalagi bukti pidana. DOJ menyatakan rilis itu adalah arsip campuran yang perlu dibaca dengan konteks.
DOJ menyebut mereka merilis “over 3 million additional pages” dan total produksi mendekati 3,5 juta halaman, termasuk lebih dari 2.000 video dan 180.000 gambar. Rilis ini dilakukan sebagai kepatuhan pada Epstein Files Transparency Act.
Dalam penjelasan resminya, DOJ menulis mereka “erred on the side of over-collecting materials”, dan sebagian materi yang tak dipublikasikan masuk kategori duplikasi, privilege, atau pengecualian UU.
Kontroversi juga muncul setelah DOJ untuk sementara menarik sekitar 9.500 dokumen dari situsnya untuk mendapatkan redaksi tambahan—menyusul munculnya kekhawatiran identitas korban bakal terungkap. DOJ menyebut langkah itu untuk perlindungan privasi korban.
Mengapa nama Sri Mulyani bisa muncul?
Sejumlah laporan media menyebut nama Sri Mulyani Indrawati muncul dalam arsip World Bank Group bertanggal 18 Juni 2014, saat ia menjabat Managing Director dan Chief Operating Officer.
Dokumen yang dirujuk digambarkan sebagai email internal dan materi komunikasi institusional terkait aktivitas kelembagaan, bukan arsip pribadi Jeffrey Epstein.
Namun, sejauh yang dapat diverifikasi dari laporan sumber terbuka tersebut, tidak ada temuan korespondensi personal antara Sri Mulyani dengan Epstein dalam konteks pemberitaan itu.
Mengapa nama Jokowi ikut terbaca di berkas?
Untuk nama Joko Widodo (Jokowi), penyebutannya muncul sebagai pembaruan berita dan laporan situasi politik Indonesia yang dikirim via email sebagai informasi.




Tinggalkan Balasan