Dedikasi seumur hidup ini berbuah manis ketika PP Muhammadiyah menganugerahkan Bintang Muhammadiyah—sebuah penghargaan berbahan emas murni yang tak ada duanya—kepada Presiden Soekarno pada 10 April 1965 di Istana Merdeka.

Pada 1965, Soekarno mendapat anugerah Bintang Muhammadiyah. Bintang yang dibuat dari bahan emas murni itu diberikan dalam rangka menghargai jasa Bung Karno kepada Muhammadiyah. Dalam penuturan K.H.A. Badawi, Bintang Muhammadiyah yang diberikan kepada Bung Karno merupakan satu-satunya bintang yang tidak ada duanya.- Dok. Muhammadiyah

Pada akhirnya, ikatan emosional ini terekam abadi dalam wasiat sang proklamator. Pada Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah tahun 1962, Soekarno menyampaikan permohonan terakhirnya.

Ia berharap Tuhan memberinya umur panjang, namun jika takdir kematian menjemput, ia hanya meminta satu hal sederhana: dikuburkan dengan kain kafan yang membawa nama Muhammadiyah. Sebuah akhir yang manis dari sang murid setia, yang sepanjang hidupnya berupaya menyalakan “Api Islam” untuk menerangi jalan peradaban bangsa.***


Daftar Rujukan:

  • Erniwati, dkk. (2019). Samaun Bakri: Berjuang Untuk Republik Hingga Akhir Hayat.
  • id. Laporan Interaktif: Mereka Lahir dari Muhammadiyah. (Merujuk pada makalah Busyro Muqoddas di Universitas Ahmad Dahlan, 2015).
  • or.id. (Pernyataan resmi Prof. Dr. Haedar Nashir mengenai sejarah Bung Karno dan Muhammadiyah).
  • (1939). Minta Hukum yang Pasti dalam Soal ‘Tabir’. Surat Terbuka di Surat Kabar Pandji Islam (Dimuat ulang dalam Di Bawah Bendera Revolusi, 1959).
  • id. Kisah awal mula Bung Karno menjadi aktivis Muhammadiyah.