Soekarno tak hanya meramu nasionalisme, tapi juga mereguk Islam berkemajuan bersama Muhammadiyah dari masa muda hingga akhir hayat.
KOSONGSATU.ID–Nama Soekarno selalu bergema berdampingan dengan narasi kebangsaan dan marhaenisme. Sang Proklamator menyala sebagai corong pembebasan rakyat dari cengkeraman kolonialisme.
Namun, di balik orasi politiknya yang menggelegar, tersimpan sebuah riwayat spiritual yang jarang orang bicarakan secara utuh: tautan batin dan pemikirannya dengan organisasi Islam, Muhammadiyah.
Jejak ini bukanlah sekadar kebetulan sejarah, melainkan proses dialektika panjang yang membentuk fondasi filosofis bapak bangsa kita.
Pencerahan di Lorong Remang Peneleh
Kisah ini bermula di sebuah rumah kos di Gang Peneleh VII, Surabaya. Saat usianya baru menginjak 15 tahun, Soekarno muda tinggal di kediaman tokoh Sarekat Islam, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Di rumah yang melahirkan banyak tokoh besar inilah, takdir mempertemukan Soekarno dengan KH Ahmad Dahlan.
Sang Pencerah sering singgah untuk bertukar pikiran dengan Tjokroaminoto sekaligus memberikan tabligh. Dalam suasana yang remang-remang itu, Soekarno remaja duduk menyimak. Ia menyerap setiap kata Kiai Dahlan yang membawa gagasan pembaruan (tajdid).
Bagi Soekarno, pidato tersebut menghembuskan napas regenerasi dan rejuvinasi Islam. Kiai Dahlan mengkritik keras umat Islam yang saat itu terkungkung oleh kejumudan, khurafat, dan takhayul, lalu menawarkan Islam sebagai agama yang sederhana, rasional, dan mendorong kemajuan. Terpukau oleh visi tersebut, Soekarno bahkan mengaku sering “mengintil” atau mengekor Kiai Dahlan setiap kali sang ulama berdakwah di Surabaya.
Pengasingan yang Membawa Berkah di Bengkulu
Benih pemikiran progresif yang tertanam di Surabaya akhirnya berakar kuat dua dekade kemudian. Ketika pemerintah kolonial Belanda membuangnya ke Bengkulu pada tahun 1938, Soekarno tidak lantas meratapi nasib. Ia justru menyelam lebih dalam ke kancah pergerakan Islam dengan resmi mendaftar sebagai anggota Muhammadiyah.
Di Bumi Rafflesia ini, Soekarno berinteraksi intens dengan tokoh Muhammadiyah setempat, salah satunya Hassan Din. Melihat corak pemikiran Soekarno yang sejalan dengan napas organisasi, Muhammadiyah memercayakan posisi Ketua Dewan Pengajaran Muhammadiyah Daerah Bengkulu kepadanya. Kedekatan ini pula yang pada akhirnya mempertemukan Soekarno dengan Fatmawati, putri Hassan Din sekaligus kader Nasyiatul Aisyiyah, yang kelak menjahit Sang Saka Merah Putih.
Mendobrak Simbol Kemunduran: Insiden Tabir
Meskipun aktif sebagai pengurus, Soekarno tetaplah seorang pemikir kritis yang menolak tunduk pada tradisi usang. Insiden paling monumental terjadi pada Januari 1939 saat ia menghadiri rapat Muhammadiyah Bengkulu. Menemukan panitia memasang “tabir” atau tirai pemisah yang menghalangi pandangan antara jemaah laki-laki dan perempuan, Soekarno melayangkan protes keras dan memilih walk out (meninggalkan ruangan).
Ia tidak memandang tabir semata-mata sebagai sehelai kain, melainkan simbol perbudakan yang mengungkung posisi sosial perempuan. Dalam surat terbukanya kepada KH Mas Mansur (Ketua HB Muhammadiyah saat itu) yang terbit di surat kabar Pandji Islam, Soekarno menegaskan pandangannya. Ia mendesak Muhammadiyah agar berani menentang adat yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadis, serta konsisten menghadirkan Islam yang berwatak modern.
Menggenggam Api Islam, Bukan Abunya
Sikap kritis Soekarno mencerminkan pemahamannya yang mendalam terhadap ajaran KH Ahmad Dahlan. Ia menolak Islam yang berhenti pada urusan simbolik.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, mengonfirmasi hal ini. Beliau memaparkan alasan fundamental mengapa sang presiden memilih organisasi ini.
“Bung Karno mengatakan kenapa saya masuk menjadi anggota Muhammadiyah karena Muhammadiyah bagi dia sesuai dengan alam pikirannya, yakni menghadirkan Islam yang progresif, dan Kyai Dahlan menghadirkan regeneration dan redifination atau peremajaan dan pemudaan pemikiran Islam,” tegas Haedar Nashir.
Pemahaman ini juga mewarnai gaya kepemimpinan Soekarno. Slogan populer seperti “Penyambung Lidah Rakyat” dan “Ampera” (Amanat Penderitaan Rakyat) diyakini lahir dari saripati pemahaman Surat Ad-Dhuha yang Kiai Dahlan ajarkan, yakni spirit keberpihakan kepada kaum dhuafa (lemah).
“Bungkuslah Saya dengan Bendera Muhammadiyah”
Kecintaan Soekarno melampaui batas politik praktis. Pada tahun 1946, meski ia telah mendirikan PNI dan Muhammadiyah banyak berafiliasi dengan Masyumi, Soekarno secara khusus meminta agar namanya tidak dicoret dari daftar keanggotaan. “Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah,” prinsipnya.
Dedikasi seumur hidup ini berbuah manis ketika PP Muhammadiyah menganugerahkan Bintang Muhammadiyah—sebuah penghargaan berbahan emas murni yang tak ada duanya—kepada Presiden Soekarno pada 10 April 1965 di Istana Merdeka.

Pada akhirnya, ikatan emosional ini terekam abadi dalam wasiat sang proklamator. Pada Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah tahun 1962, Soekarno menyampaikan permohonan terakhirnya.
Ia berharap Tuhan memberinya umur panjang, namun jika takdir kematian menjemput, ia hanya meminta satu hal sederhana: dikuburkan dengan kain kafan yang membawa nama Muhammadiyah. Sebuah akhir yang manis dari sang murid setia, yang sepanjang hidupnya berupaya menyalakan “Api Islam” untuk menerangi jalan peradaban bangsa.***
Daftar Rujukan:
- Erniwati, dkk. (2019). Samaun Bakri: Berjuang Untuk Republik Hingga Akhir Hayat.
- id. Laporan Interaktif: Mereka Lahir dari Muhammadiyah. (Merujuk pada makalah Busyro Muqoddas di Universitas Ahmad Dahlan, 2015).
- or.id. (Pernyataan resmi Prof. Dr. Haedar Nashir mengenai sejarah Bung Karno dan Muhammadiyah).
- (1939). Minta Hukum yang Pasti dalam Soal ‘Tabir’. Surat Terbuka di Surat Kabar Pandji Islam (Dimuat ulang dalam Di Bawah Bendera Revolusi, 1959).
- id. Kisah awal mula Bung Karno menjadi aktivis Muhammadiyah.






Tinggalkan Balasan