Di Bumi Rafflesia ini, Soekarno berinteraksi intens dengan tokoh Muhammadiyah setempat, salah satunya Hassan Din. Melihat corak pemikiran Soekarno yang sejalan dengan napas organisasi, Muhammadiyah memercayakan posisi Ketua Dewan Pengajaran Muhammadiyah Daerah Bengkulu kepadanya. Kedekatan ini pula yang pada akhirnya mempertemukan Soekarno dengan Fatmawati, putri Hassan Din sekaligus kader Nasyiatul Aisyiyah, yang kelak menjahit Sang Saka Merah Putih.
Mendobrak Simbol Kemunduran: Insiden Tabir
Meskipun aktif sebagai pengurus, Soekarno tetaplah seorang pemikir kritis yang menolak tunduk pada tradisi usang. Insiden paling monumental terjadi pada Januari 1939 saat ia menghadiri rapat Muhammadiyah Bengkulu. Menemukan panitia memasang “tabir” atau tirai pemisah yang menghalangi pandangan antara jemaah laki-laki dan perempuan, Soekarno melayangkan protes keras dan memilih walk out (meninggalkan ruangan).
Ia tidak memandang tabir semata-mata sebagai sehelai kain, melainkan simbol perbudakan yang mengungkung posisi sosial perempuan. Dalam surat terbukanya kepada KH Mas Mansur (Ketua HB Muhammadiyah saat itu) yang terbit di surat kabar Pandji Islam, Soekarno menegaskan pandangannya. Ia mendesak Muhammadiyah agar berani menentang adat yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Hadis, serta konsisten menghadirkan Islam yang berwatak modern.
Menggenggam Api Islam, Bukan Abunya
Sikap kritis Soekarno mencerminkan pemahamannya yang mendalam terhadap ajaran KH Ahmad Dahlan. Ia menolak Islam yang berhenti pada urusan simbolik.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, mengonfirmasi hal ini. Beliau memaparkan alasan fundamental mengapa sang presiden memilih organisasi ini.
“Bung Karno mengatakan kenapa saya masuk menjadi anggota Muhammadiyah karena Muhammadiyah bagi dia sesuai dengan alam pikirannya, yakni menghadirkan Islam yang progresif, dan Kyai Dahlan menghadirkan regeneration dan redifination atau peremajaan dan pemudaan pemikiran Islam,” tegas Haedar Nashir.
Pemahaman ini juga mewarnai gaya kepemimpinan Soekarno. Slogan populer seperti “Penyambung Lidah Rakyat” dan “Ampera” (Amanat Penderitaan Rakyat) diyakini lahir dari saripati pemahaman Surat Ad-Dhuha yang Kiai Dahlan ajarkan, yakni spirit keberpihakan kepada kaum dhuafa (lemah).
“Bungkuslah Saya dengan Bendera Muhammadiyah”
Kecintaan Soekarno melampaui batas politik praktis. Pada tahun 1946, meski ia telah mendirikan PNI dan Muhammadiyah banyak berafiliasi dengan Masyumi, Soekarno secara khusus meminta agar namanya tidak dicoret dari daftar keanggotaan. “Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah,” prinsipnya.




Tinggalkan Balasan