IMF menyebut konflik di Asia Barat memperburuk prospek ekonomi banyak negara dan meningkatkan risiko global.


KOSONGSATU.ID – Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang yang terus berlangsung di kawasan Asia Barat—yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat-Israel—telah menggelapkan prospek ekonomi global dan memperburuk ketidakpastian di banyak negara.

Dalam laporan terbarunya, IMF menilai eskalasi konflik di kawasan tersebut memicu tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi dunia. Dampaknya terasa langsung pada harga energi, rantai pasok, hingga inflasi global.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menegaskan kondisi ini bukan sekadar krisis regional. “Ketegangan geopolitik yang meningkat di Asia Barat dapat berdampak luas terhadap ekonomi global,” ujarnya dalam pernyataan resmi, dikutip Selasa (31/3/2026).

Lonjakan harga energi menjadi salah satu dampak paling nyata. Konflik di kawasan penghasil minyak utama itu meningkatkan risiko gangguan pasokan, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Efeknya cepat. Dan menyebar.

IMF mencatat negara-negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan. Ketergantungan tinggi pada impor energi membuat banyak negara menghadapi tekanan fiskal dan inflasi yang semakin berat.

Tekanan Energi dan Inflasi Global

Selain energi, rantai pasok global juga terdampak. Jalur perdagangan penting di kawasan Asia Barat berisiko terganggu akibat konflik, sehingga memperlambat distribusi barang dan meningkatkan biaya logistik.

IMF juga menyoroti meningkatnya ketidakpastian investasi. Investor cenderung menahan ekspansi di tengah situasi geopolitik yang tidak stabil, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

“Ketidakpastian ini dapat menekan investasi dan memperlambat pemulihan ekonomi global,” kata Georgieva.

Dalam situasi ini, IMF mendorong negara-negara untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik, menjaga stabilitas fiskal, serta meningkatkan koordinasi kebijakan global.

Negara Berkembang Paling Terpukul

Negara berkembang disebut menghadapi risiko berlapis. Selain tekanan harga energi, mereka juga harus menghadapi pelemahan mata uang, peningkatan utang, dan keterbatasan ruang fiskal.