IHSG melemah dipicu konflik Iran–AS dan ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed.


KOSONGSATU.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jumat bergerak melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

IHSG dibuka turun 11,07 poin atau 0,14 persen ke posisi 7.699,47. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga melemah 1,61 poin atau 0,20 persen ke level 786,21.

Investor Waspadai Volatilitas Pasar

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan rebound teknikal yang sempat terjadi diperkirakan tidak berlangsung lama karena indeks masih berada di area resistance kritikal 7.712–7.720.

Ia menyarankan investor untuk meningkatkan porsi kas menjelang akhir pekan guna mengantisipasi potensi volatilitas pasar yang tinggi.

“Pasar saat ini berada dalam kondisi sensitif terhadap perkembangan geopolitik global,” kata Liza.

Konflik Timur Tengah Pengaruhi Sentimen Global

Dari faktor eksternal, eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi energi serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed.

Bank sentral AS dijadwalkan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17–18 Maret 2026 untuk menentukan arah suku bunga acuan.

Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sekitar 40 basis poin sepanjang 2026, turun dari perkiraan sebelumnya sekitar 50 basis poin sebelum konflik meningkat.

Harga Minyak Dunia Melonjak

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga mendorong lonjakan harga minyak dunia akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dari kawasan tersebut.

Harga minyak Brent naik sekitar 4,93 persen menjadi 85,41 USD per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 8,51 persen menjadi 81,01 USD per barel.

Lonjakan harga energi ini dinilai berpotensi memicu tekanan inflasi global apabila konflik berlangsung lebih lama.

Perlambatan Ekonomi China Ikut Disorot

Selain konflik Timur Tengah, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi China yang disampaikan dalam forum Two Sessions.

China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia dengan porsi sekitar 24 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada 2025 yang mencapai sekitar 64,82 miliar USD.

Perlambatan ekonomi negara tersebut berpotensi menekan permintaan komoditas Indonesia serta memengaruhi arus investasi.

Realisasi investasi China di Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 7,5 miliar USD.

Secara historis, setiap perlambatan 1 persen pertumbuhan ekonomi China dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,3 persen.

Bursa Global Turut Melemah

Sentimen negatif juga terlihat pada bursa saham Eropa. Sejumlah indeks utama kompak ditutup di zona merah.

Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,46 persen, FTSE 100 Inggris melemah 1,45 persen, DAX Jermanturun 1,61 persen, dan CAC Prancis terkoreksi 1,49 persen.

Tekanan pada pasar global tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik geopolitik terhadap stabilitas ekonomi dunia.***