Perbedaan awal Ramadan di Indonesia bukan fenomena baru. Sejarah mencatat silang pendapat Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga di era Demak sudah menggunakan metode hisab dan rukyat sejak abad ke-16.
KOSONGSATU.ID — Di tengah pelaksanaan Sidang Isbat yang digelar hari ini, Selasa (17/2/2026), sejarah mencatat bahwa perbedaan metode penentuan awal Ramadan di Indonesia bukanlah fenomena baru. Silang pendapat antara metode Hisab dan Rukyatul Hilal telah terjadi sejak abad ke-16, melibatkan dua tokoh besar Majelis Wali Songo: Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga.
Berdasarkan catatan sejarawan H.J. de Graaf dalam buku Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, perselisihan ini mencuat dalam musyawarah ulama bersama Raja Demak, Sultan Trenggono. Saat itu, Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga memiliki pendekatan berbeda dalam menetapkan jatuhnya 1 Ramadan, yang kemudian memicu dinamika besar di internal Kerajaan Demak.
Dinamika Metode dan Keputusan Politik
Meskipun catatan sejarah tidak merinci secara eksplisit siapa yang memegang metode tertentu, keputusan Sultan Trenggono untuk memihak pada pandangan Sunan Kalijaga menjadi titik balik penting. Dampak dari keputusan tersebut sangat signifikan secara geopolitik dan dakwah:
- Pendirian Kota Kudus (1549): Sunan Kudus yang saat itu menjabat sebagai Imam Masjid Agung Demak, memutuskan untuk meninggalkan pusat kekuasaan dan membangun basis dakwah baru yang kini dikenal sebagai Kota Kudus.
- Peralihan Jabatan: Posisi Imam Masjid Agung Demak kemudian diisi oleh Sunan Kalijaga, yang juga menerima tanah perdikan di Kadilangu sebagai bentuk apresiasi dari kerajaan.
Perselisihan yang Berakar Dalam
Catatan de Graaf mengungkapkan bahwa perbedaan pandangan soal Ramadan hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang merenggangkan hubungan kedua wali tersebut. Terdapat beberapa faktor pemicu lainnya:
- Persaingan Murid: Berpindahnya dua murid Sunan Kudus, yakni Sunan Prawata dan Jaka Tingkir, untuk berguru kepada Sunan Kalijaga dianggap mencoreng wibawa Sunan Kudus pada masa itu.
- Sikap Politik: Sunan Kalijaga dikenal sebagai pendukung setia kebijakan Sultan Trenggono. Sebaliknya, Sunan Kudus cenderung mengambil posisi kritis terhadap kekuasaan, terutama terkait suksesi kepemimpinan yang diwarnai perebutan takhta antara Sultan Trenggono dan saudara tirinya, Raden Kikin.
Warisan Persatuan di Tengah Perbedaan
Meskipun diwarnai dengan perbedaan pandangan yang tajam, sejarah menunjukkan bahwa stabilitas Kerajaan Demak tetap terjaga. Dakwah Islam terus berkembang pesat tanpa harus menggoyahkan fondasi persatuan kerajaan.




Tinggalkan Balasan