Pada suatu malam di Juli 1888, amarah yang lama dipendam rakyat Banten akhirnya menemukan jalannya—bukan lewat istana atau parlemen, melainkan dari surau, sawah, dan lorong-lorong desa di Cilegon.
KOSONGSATU.ID—Perlawanan yang kelak dikenang sebagai Geger Cilegon 1888 meletus pada 9 Juli, ketika petani, jawara, dan ulama bergerak serentak melawan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Ia bukan sekadar letupan kekerasan, melainkan simpul dari rangkaian panjang penindasan sosial, ekonomi, dan keagamaan yang menekan kehidupan rakyat Banten sejak runtuhnya Kesultanan Banten pada awal abad ke-19.
Setelah kesultanan dibubarkan, Banten masuk sepenuhnya ke dalam orbit administrasi penjajah. Pajak tanah meningkat, kerja paksa diberlakukan, dan ruang gerak ulama diawasi ketat. Islam—yang selama berabad-abad menjadi poros sosial dan spiritual masyarakat Banten—dipersempit ke ranah ritual semata, dijauhkan dari pengaruh sosial-politik. Di desa-desa, ketegangan itu terasa nyata: hasil panen menipis, kewajiban penjajah menumpuk, dan aparat lokal sering bertindak sewenang-wenang.
Luka Krakatau dan Kemiskinan Berkepanjangan
Situasi sosial yang rapuh kian memburuk setelah letusan Gunung Krakatau pada 1883. Bencana alam itu bukan hanya menghancurkan pesisir dan lahan pertanian, tetapi juga merusak tatanan hidup. Abu vulkanik menutup sawah, penyakit merebak, dan kelaparan menjadi pengalaman kolektif yang panjang.
Bagi banyak petani Banten, penjajahan tak lagi hadir sebagai konsep politik abstrak, melainkan sebagai kenyataan sehari-hari: pajak tetap ditagih meski panen gagal, kerja paksa tetap berjalan meski tubuh lemah. Dalam kondisi itulah rasa ketidakadilan mengendap, menunggu momentum untuk meledak.
Ulama sebagai Poros Perlawanan
Dalam ruang sosial yang tertekan itulah muncul figur ulama sebagai simpul harapan dan perlawanan. Di Cilegon, nama KH Wasyid menjadi pusat gravitasi. Ia bukan pejabat, bukan bangsawan, melainkan guru agama yang disegani, dengan jaringan murid dan pengikut tarekat yang luas.
Melalui pengajian dan jejaring keagamaan, pesan tentang ketidakadilan penjajah beredar—pelan, tetapi pasti. Agama menjadi bahasa bersama untuk membaca penderitaan sekaligus membingkai perlawanan sebagai tindakan bermakna, bukan sekadar amuk massa.
Malam Serangan dan Balasan Penjajah
Serangan dimulai pada malam hingga dini hari 9 Juli 1888, menyasar simbol-simbol kekuasaan penjajah: rumah pejabat, kantor administrasi, dan pos keamanan Hindia Belanda. Aparat penjajah dibuat terkejut. Untuk sesaat, perlawanan rakyat desa menunjukkan bahwa kekuasaan penjajah tak sepenuhnya tak tergoyahkan.
Namun keunggulan itu singkat. Dari Batavia, pasukan tambahan segera dikirim, membawa senjata dan disiplin militer yang tak sebanding dengan persenjataan rakyat. Dalam hitungan hari, perlawanan berhasil dipadamkan.
Penumpasan dan Ingatan yang Tersisa
Penindasan menyusul dengan cepat dan sistematis. Penangkapan massal dilakukan, para pemimpin perlawanan dieksekusi atau dibuang ke luar daerah, sementara ratusan pengikut dipenjara. KH Wasyidsendiri gugur dalam pengejaran pada akhir Juli 1888—sebuah akhir tragis yang sekaligus mengukuhkan posisinya dalam ingatan kolektif rakyat Banten.
Bagi pemerintah penjajah, Geger Cilegon dicatat sebagai gangguan keamanan yang harus dihentikan. Namun bagi sejarah Indonesia, peristiwa ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.




Tinggalkan Balasan