Di tengah kolonialisme yang menyesakkan, H.O.S. Tjokroaminoto berdiri sebagai sokoguru pergerakan—menjembatani Islam dan nasionalisme, serta menanamkan benih kemerdekaan pada generasi yang kelak memimpin Indonesia.

KOSONGSATU.ID—Haji Oemar Said Tjokroaminoto menempati posisi unik dalam sejarah Indonesia: seorang pemimpin tanpa jabatan resmi negara, tetapi pengaruhnya merembes ke ruang-ruang kesadaran kolektif bangsa. Pemerintah kolonial Belanda menjulukinya De Ongekroonde van Java—Raja Jawa Tanpa Mahkota—sebuah pengakuan yang lahir dari kegelisahan, bukan kekaguman.

Bagi Tjokroaminoto, Islam dan nasionalisme bukan dua arus yang saling meniadakan. Ia percaya cinta tanah air adalah bagian dari iman, dan perjuangan kemerdekaan bukanlah pemberontakan tanpa arah, melainkan ikhtiar etis yang berpijak pada nilai-nilai keadilan. Di titik itulah, Tjokro berdiri sebagai jembatan—antara keyakinan religius dan kesadaran kebangsaan yang sedang tumbuh.

Sang Guru dan Seorang Murid Bernama Sukarno

Jejak pengaruh Tjokroaminoto paling terang terbaca pada diri Sukarno. Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno mengisahkan hubungannya dengan sang guru kepada Cindy Adams dengan kalimat yang jujur sekaligus merendah: “Aku mendjadi buntut dari Tjokroaminoto.”

Sukarno muda mengikuti Tjokro ke mana pun ia pergi. Ia bukan orator, bukan pusat perhatian—hanya seorang pendengar setia. Ia duduk, mengamati, dan belajar. Tjokro, kenangnya, tak pernah berpidato dengan suara meninggi, tak melucu, tak mengandalkan sensasi. Pidato-pidatonya “tidak bergaram”, namun justru di situlah kekuatannya. “Cerminku adalah Tjokroaminoto,” kata Sukarno, menegaskan dari siapa ia belajar tentang kepemimpinan.

Rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII, Surabaya, menjadi ruang pembentukan ide-ide besar. Setiap malam, tokoh-tokoh pergerakan datang berdiskusi, merumuskan siasat, dan menyegarkan perlawanan. Sukarno remaja duduk di lantai, menahan kantuk dan dingin malam, menyimak percakapan yang kelak membentuk orientasi politiknya.

Suatu ketika, ia melontarkan pertanyaan polos: berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia? Tjokro menjawab dengan dingin namun menghunjam. De Vereenigde Oost-Indische Compagnie, katanya, mencuri sekitar 1.800 juta gulden setiap tahun—cukup untuk memberi makan Den Haag. Dari ruang sempit itulah, kebencian Sukarno pada penjajahan mulai berakar, dipupuk oleh seorang mentor yang tak pernah berteriak, tapi selalu tepat sasaran.

Tjokroaminoto di tengah murid-muridnya. – Dok. Istimewa

Sarekat Islam dan Perlawanan Tanpa Kompromi

Di ruang publik, Tjokroaminoto dikenal sebagai tokoh sentral Sarekat Islam (SI). Organisasi ini memperjuangkan hak politik dan ekonomi pribumi, menantang kesewenangan kolonial Belanda serta dominasi pengusaha non-pribumi dalam perdagangan. Di bawah kepemimpinannya, SI tumbuh menjadi organisasi massa terbesar pada masa pra-kemerdekaan—mewakili denyut bumiputera dalam skala nasional.

Dalam Kongres Central Sarekat Islam yang dihadiri ratusan utusan dari puluhan cabang, Tjokro menyampaikan pidato yang kemudian bergema luas. Dengan jari telunjuk terangkat, ia menolak logika kolonial yang memandang Hindia sebagai sapi perahan—negeri yang hanya diberi makan agar susunya dapat diperas, sementara penduduk aslinya tak diberi hak bicara atas nasib sendiri.

Kata-kata itu membuat hadirin terdiam, lalu bergemuruh. Bukan sekadar pidato, melainkan artikulasi kemarahan kolektif yang lama terpendam. Dari sana, Sarekat Islam bergerak makin keras. Perlawanan yang semula humanis bertransformasi menjadi struktural dan revolusioner, seiring meningkatnya represi kolonial.

Para tokoh SI menuntut diakhirinya penindasan dalam segala bentuk—politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga agama. Pada titik tertentu, kompromi dianggap sebagai kemewahan yang tak lagi relevan. Gerakan ini menggertak, menekan, dan memaksa kolonialisme menghadapi perlawanan terbuka.