Manuver militer dan unjuk kekuatan persenjataan yang saling berbalas antara Iran dan Israel, berikut keterlibatan strategis Washington, berbenturan langsung dengan prinsip dasar KAA.
Dasasila Bandung secara eksplisit melarang penggunaan ancaman atau kekerasan terhadap integritas teritorial negara lain, serta menolak keras campur tangan pihak luar dalam urusan kawasan. Peringatan Soekarno mengenai bahaya kekuatan asing yang mengamankan jalur kepentingan di wilayah strategis dunia terbukti masih aktual.
Relevansi Dasasila Bandung Saat Ini
Menghadapi potensi konflik terbuka yang mengancam stabilitas politik dan ekonomi global, diplomasi Indonesia menempatkan penyelesaian sengketa secara damai sebagai jalan keluar utama. Hal ini sejalan dengan sepuluh prinsip perdamaian Dasasila Bandung yang menjunjung tinggi kedaulatan bangsa.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menegaskan bahwa diplomasi Indonesia terus menjadikan prinsip ini sebagai kompas moral. “Kami melihat prinsip-prinsip dalam Dasasila Bandung sebagai nilai yang kami kawal, tidak hanya secara seremonial, tetapi juga dalam misi dan pesan yang kami kedepankan,” ujar Nabyl dikutip dari ANTARA.
Ia menambahkan, Indonesia tidak akan meninggalkan momentum historis ini karena nilainya sangat relevan untuk memecah kebuntuan tantangan geopolitik saat ini.
Semangat KAA 1955 membuktikan bahwa negara-negara berkembang memiliki kekuatan moral untuk bersatu menentang ketidakadilan dan hegemoni militer asing. Berkaca dari sejarah tersebut, Indonesia terus mendorong deeskalasi Timur Tengah dan memastikan warisan Dasasila Bandung tetap menjadi solusi konkret bagi perdamaian dunia, serta jalan terang bagi kemerdekaan Palestina. ***



Tinggalkan Balasan