Di Barus, para dukun itu bukan ahli klenik. Mereka adalah laboratorium alam yang sudah beroperasi 2.000 tahun sebelum farmasi modern.


KOSONGSATU.ID — Jauh sebelum ada apotek, ada Barus. Kota pelabuhan di pesisir barat Sumatera Utara ini sudah dikenal pedagang Arab, India, Cina, bahkan Mesir ribuan tahun lalu, bukan karena lokasinya, melainkan karena satu komoditas: kristal putih dari pohon Dryobalanops aromatica yang kini kita kenal sebagai kapur barus.

Teks geografi Ptolemaeus yang ditulis sekitar 160 Masehi menyebut “Barussae”. Ini adalah bukti Barus sudah masuk radar peradaban dunia hampir dua milenium lalu. Para kartografer Renaisans kemudian mengabadikannya dalam peta bernama Tabula Asiae XI.

Sistem Diagnosis, Bukan Sekadar Mantra

Di kota inilah para datu — penyembuh tradisional Barus — mengembangkan sistem pengobatan yang jauh lebih terstruktur dari yang dibayangkan. Mereka punya hierarki: datu bolon (dukun besar) dan datu gelleng (dukun kecil). Ada proses diagnosis, ada ramuan, ada etika.

Dua elemen ritual pembuka selalu hadir: tabas (pujian kepada Tuhan) dan tonggo (permohonan penyembuhan). Baru setelah itu ramuan diracik — dari tumbuhan, hewan, dan mineral — lalu dilanjutkan dengan urut sebagai medium penyaluran.

Prof. Rusmin Tumanggor, Guru Besar Antropologi Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menghabiskan lebih dari empat tahun (1991–1995) meneliti sistem ini untuk disertasinya di Universitas Indonesia. Ia menemukan 395 mantra jampi yang digunakan para datu — dalam bahasa Batak, Arab, Ibrani, bahkan Mandarin. Ini bukan takhayul lokal; ini adalah sintesis pengetahuan lintas peradaban.

Ketika Lab Membuktikan Apa yang Datu Sudah Tahu

Inti dari semua ramuan itu adalah borneol, monoterpena bisiklik (bicyclic monoterpene) yang menjadi senyawa aktif utama Dryobalanops aromatica. Dan sains modern sekarang memvalidasinya satu per satu.

Studi Xiao et al. (2025) yang dipublikasikan di Plants (PubMed Central) membuktikan minyak esensial borneol mengganggu dinding sel bakteri hingga menyebabkan kebocoran asam nukleat — yang berujung pada kematian bakteri. Dalam pengujian in vitro, borneol berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap efek antiradang keseluruhan.

Ulasan komprehensif yang diterbitkan di ScienceDirect (2024) mengonfirmasi borneol memiliki aktivitas antibakteri, analgesik, antioksidan, dan neuroprotektif — serta mampu menembus sawar darah-otak (blood-brain barrier). Menjadikannya kandidat serius untuk terapi stroke.

Studi Zhang et al. (2017) di International Immunopharmacology menemukan kombinasi (+)-borneol dan edaravon secara signifikan meredakan kolitis — peradangan usus besar — pada model hewan percobaan melalui jalur JAK2-STAT3.

Sementara itu, analisis kimia pada mumi Mesir Kuno yang dipublikasikan Journal of the American Chemical Society (2025) mendeteksi keberadaan borneol dalam bahan pembalseman — konsisten dengan catatan sejarah bahwa kapur barus adalah komoditas mewah peradaban kuno.

Pohon Warisan yang Sekarat di Tanahnya Sendiri

Ironisnya, pohon yang membuat Barus termasyhur itu kini berjuang untuk bertahan. IUCN (2018) mengklasifikasikan Dryobalanops aromatica sebagai Vulnerable secara global dan Critically Endangered di Indonesia — terancam oleh ekspansi perkebunan sawit dan penebangan hutan dataran rendah.

Pohon yang butuh lebih dari 50 tahun untuk menghasilkan kristal borneol itu tidak punya waktu menunggu regulasi bergerak lebih cepat dari gergaji mesin.

Ilmu Warisan yang Layak Diselamatkan

Pengobatan datu bertahan bukan karena masyarakat Barus “ketinggalan zaman”. Catatan Rusmin dalam bukunya Gerbang Agama-Agama Nusantara (Komunitas Bambu, 2017) justru memperlihatkan bahwa dari 166 spesies tumbuhan yang digunakan para datu, 56 di antaranya belum pernah masuk laboratorium farmasi modern — artinya, masih ada puluhan potensi senyawa aktif yang belum kita gali.

Sebelum pohonnya habis, dan sebelum pengetahuannya ikut terkubur, ada baiknya kita mulai memperlakukan sistem datu Barus bukan sebagai warisan budaya yang dimuseumkan — melainkan sebagai data sains yang belum selesai dieksplorasi.***


Catatan: Meski khasiat borneol sudah divalidasi secara ilmiah, penggunaan kapur barus mentah tetap memerlukan pengawasan ahli. Dosis berlebih bersifat toksik.


DAFTAR RUJUKAN

Sumber Primer — Jurnal Ilmiah

  • Xiao, S., Yu, H., Guo, Y., Cheng, Y., & Yao, W. (2025). The Antibacterial and Anti-Inflammatory Potential of Cinnamomum camphora chvar. Borneol Essential Oil In Vitro. Plants, 14(12), 1880. https://doi.org/10.3390/plants14121880
  • Zhang, X., Xu, F., Liu, L., Feng, L., Wu, X., Shen, Y., Sun, Y., Wu, X., & Xu, Q. (2017). (+)-Borneol improves the efficacy of edaravone against DSS-induced colitis by promoting M2 macrophages polarization via JAK2-STAT3 signaling pathway. International Immunopharmacology, 53, 1–10. https://doi.org/10.1016/j.intimp.2017.10.002
  • Liang, X., et al. (2024). Advances and perspectives on pharmacological activities and mechanisms of the monoterpene borneol. Phytomedicine, 132. https://doi.org/10.1016/j.phymed.2024.155063 (ulasan sistematis, Web of Science/PubMed, Jan 1990–Mei 2024)
  • Villamor, E. A., et al. (2025). Ancient Egyptian Mummified Bodies: Cross-Disciplinary Analysis of Their Smell. Journal of the American Chemical Society. https://doi.org/10.1021/jacs.4c15769
  • Barstow, M. & Randi, A. (2018, errata 2020). Dryobalanops aromatica. The IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T61998024A173026192. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2018-1.RLTS.T61998024A173026192.en

Sumber Primer — Disertasi & Buku Akademik

  • Tumanggor, R. (1999). Sistem kepercayaan dan pengobatan tradisional: studi penggunaan ramuan tradisional dalam pengobatan masyarakat Barus suku bangsa Batak Tapanuli Tengah Sumatera Utara. Disertasi Doktor, FISIP Universitas Indonesia. https://lontar.ui.ac.id/detail?id=106385
  • Tumanggor, R. (2017). Gerbang Agama-Agama Nusantara: Kajian Antropologi Agama dan Kesehatan di Barus. Komunitas Bambu, Jakarta.

Sumber Sekunder — Lembaga Riset & Media Terverifikasi

  • CRCS Universitas Gadjah Mada. (2017). Pengobatan ‘Klenik’ dan Keberagamaan ‘Sinkretik’ di Barus. https://crcs.ugm.ac.id/pengobatan-klenik-dan-keberagamaan-sinkretik-di-barus/
  • Royal Botanic Gardens, Kew — Plants of the World Online (POWO). (2024). Dryobalanops aromatica C.F.Gaertn. species profile. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:677092-1
  • National Geographic Indonesia. (15 September 2021). Temuan Ahli Antropologi di Balik Mantra Misterius dari Barus. https://nationalgeographic.grid.id/read/131729957/temuan-ahli-antropologi-di-balik-mantra-misterius-dari-barus
  • Historia.id. (November 2017). Kapur Barus, Agen Persebaran Agama di Nusantara. https://historia.id