Dari Kiai ke Kaum Terpelajar
Jejak pengaruh pesantren bahkan tampak dalam lingkar pergaulan Setiabudi sendiri. Ia bersahabat dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara, dua tokoh yang banyak terinspirasi oleh gerakan moral rakyat. Dari sanalah lahir Indische Partij—partai politik pertama yang mengusung semangat kemerdekaan Indonesia.
Pandangan spiritual itu juga yang membuatnya dihormati Soekarno. Bung Karno menyebutnya sebagai “mahaguru”, bersama Kiai Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara.
Dalam berbagai kesempatan, Soekarno mengenang bahwa ajaran Setiabudi bukan sekadar politik, tapi jiwa kebangsaan yang bersumber dari nilai pesantren: setia, jujur, dan teguh.
Warisan yang Terlupakan
Danudirja Setiabudi wafat pada 28 Agustus 1950, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Namun demikian, pemikirannya tetap hidup—tentang pentingnya menghargai akar budaya, agama, dan lembaga pendidikan rakyat.
Pesan yang ia titipkan 75 tahun lalu kini terasa relevan kembali: bahwa bangsa ini hanya akan kuat bila pesantren tetap menjadi penjaga nurani nasionalisme, dan para santri terus menyalakan semangat cinta tanah air tanpa pamrih.***



Tinggalkan Balasan