Psikolog Yusdiranti Barus mengingatkan bahaya paparan gawai berlebihan bagi anak-anak dan remaja. Orang-orang perlu digital detox. Ini bukan tren gaya hidup, melainkan kebutuhan demi kesehatan mental masa depan.


KOSONGSATU.ID—Gawai kini seperti perpanjangan tangan. Bangun tidur, tangan kita langsung menyentuh layar. Sebelum tidur, mata kita masih terpaku pada notifikasi. Dari anak kecil sampai orang dewasa, nyaris semua aktivitas bersanding dengan perangkat digital.

Tapi, di balik kenyamanan itu, tersembunyi bahaya yang tak selalu tampak. Psikolog Yusdiranti Barus menyebutnya sebagai “jebakan sunyi” yang bisa memicu gangguan emosi dan perilaku—lintas usia.

“Digital detox itu penting. Bukan sekadar tren, tapi langkah sadar untuk menyelamatkan diri dari dampak negatif paparan layar,” ujar Yusdiranti, Jumat (18/7).

Ia menjelaskan, ketergantungan pada gawai perlahan mengikis batas antara dunia nyata dan virtual. Anak-anak jadi mudah tantrum jika gadget-nya diambil. Remaja sulit fokus belajar tanpa jeda scroll media sosial. Orang dewasa pun tak lepas dari dorongan untuk terus membuka layar, bahkan di meja makan atau dalam perjalanan.

Yusdiranti menegaskan, peran orang tua sangat krusial. “Anak-anak butuh contoh, bukan sekadar larangan. Kalau orang tuanya terus main HP, bagaimana anak bisa belajar membatasi diri?” katanya.

Ia pun memberikan panduan praktis:

  • Anak usia di bawah 3 tahun sebaiknya tidak diberi gadget sama sekali.
  • Usia 3–5 tahun, maksimal 1 jam per hari.
  • Usia 6–12 tahun, batas waktu 1,5 jam per hari.
  • Usia remaja (12–18 tahun), idealnya dua jam per hari, itu pun dengan pengawasan konten secara aktif.

Tapi digital detox bukan sekadar mengatur durasi. Lebih dari itu, ini soal membangun kembali kebiasaan sehat—bermain di luar rumah, bercengkerama tanpa layar, makan bersama tanpa gangguan notifikasi.

“Remaja juga harus belajar memilah konten, menjaga produktivitas, dan tahu kapan waktunya berhenti. Itu semua butuh latihan dan pendampingan,” ujar Yusdiranti.

Ia mengingatkan, terlalu sering menonton konten negatif bisa memengaruhi cara berpikir dan bertindak. “Bisa membentuk perilaku menyimpang kalau dibiarkan terus-menerus,” katanya.

Maka, detox digital adalah bentuk investasi kesehatan mental. Ia bukan musuh teknologi, melainkan cara untuk menjadikan teknologi tetap berada di tangan kita—bukan sebaliknya.

Tanpa kesadaran dan kontrol, gawai bisa berubah dari alat bantu menjadi sumber masalah. Maka sebelum terlambat, detokslah. Demi diri sendiri, demi anak-anak, demi keluarga.***