Dengan modal cekak dan semangat saling tolong yang membuncah, relawan OPSHID menggerakkan gotong royong di Sukabumi: melobi toko, menekan biaya logistik, hingga merebut simpati warga lewat silaturahmi.


KOSONGSATU.ID—Misi pembangunan Rumah Pintar Shiddiqiyyah (RPS) Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) mengemas banyak cerita unik. Tanpa dukungan anggaran besar maupun fasilitas yang auto-komplit, puluhan relawan dari berbagai daerah datang membawa satu hal: tekad untuk membantu.

Dan semua kendala bisa diatasi dengan akal, yang didorong oleh keinginan luhur untuk berbagi. Barangkali pesan penting inilah yang diamalkan oleh tim relawan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Zona 1 OPSHID.

Tawarkan Mobil Pribadi Jadi Jaminan

Ketika tim relawan tiba di Desa Sukamaju, Kabupaten Sukabumi, mereka langsung menghadapi kendala klasik: keterbatasan dana dan kebutuhan material yang mendesak.

Dengan anggaran minim yang baru diterima dari bendahara, Koordinator Material Zona 1, Shodiqul Aziz, harus segera mencari cara agar pembangunan rumah Syukur bisa segera dimulai.

Shodiqul memilih langkah negosiasi. Ia mendatangi toko bangunan lokal dan menyampaikan keterbatasan dana yang dimiliki tim.

Kepada pemilik toko, ia menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari program kemanusiaan OPSHID, dan dana dikumpulkan melalui urunan relawan dari berbagai daerah.

Sebagai bentuk komitmen, Shodiqul bahkan menawarkan mobil pribadinya sebagai jaminan pembelian material. Namun, pemilik toko justru mempersilakan mobil itu tetap digunakan untuk operasional, dan bersedia mengirim material lebih awal.

Toko bahkan memberi kemudahan: cukup telepon, bahan bisa langsung dikirim ke lokasi tanpa harus datang langsung.

Alhamdulillah, dengan komunikasi yang baik, kami mendapat kepercayaan dari pihak toko,” ujarnya.

Material mulai dikirim sejak hari pertama. Sebagian diletakkan di titik pembangunan, sebagian di basecamp relawan.

Menekan Biaya, Menggandeng Warga

Perjalanan tim dari Jombang, Jawa Timur, menuju Sukabumi ditempuh menggunakan dua mobil ELF dan dua kendaraan pribadi. Total ada 43 relawan ikut serta, terdiri dari 23 tim dari Zona 1 dan 20 dari DPP OPSHID.

Dalam menempuh perjalanan itu, Koordinator Transportasi dan Konsumsi, Suyoto, menyebut efisiensi menjadi prioritas. Untuk menekan biaya makan selama perjalanan, tim membeli makanan secara kolektif. Harga satu porsi nasi goreng yang semula Rp35.000 berhasil ditekan menjadi Rp25.000 setelah negosiasi.

Setibanya di lokasi, tim membawa perbekalan sendiri: beras, sayur, mie, telur, dan ikan. Ini dilakukan karena pasar tradisional terletak cukup jauh dari lokasi proyek.

Koordinasi dan komunikasi dengan semua pihak adalah kunci sukses dalam pengerjaan program-program sosial. –Ilustrasi Kosongsatuid

Namun, setelah beberapa hari bersilaturahmi dengan warga, bantuan pun berdatangan. Penjual sayur mulai rutin berkeliling ke lokasi, menawarkan kebutuhan sehari-hari dengan harga lokal.

Informasi dari warga juga membuka fakta lain: penerima rumah ternyata adalah Ketua RT setempat. Hal ini semakin memperkuat pentingnya membaur dan menjaga hubungan baik, kata Suyoto.

Basecamp relawan telah disiapkan oleh tim OPSHID Zona 3. Rumah milik warga yang sedang merantau itu disewa dan cukup layak untuk ditempati selama kegiatan berlangsung.