BI menegaskan bahwa komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang sering menjadi penyumbang utama inflasi bulanan karena sangat sensitif terhadap gangguan pasokan dan faktor cuaca.
Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi dalam sejumlah keterangan resmi Bapanas pada awal Februari 2026 menyatakan pemerintah terus melakukan penguatan distribusi antardaerah dan koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk meredam lonjakan harga cabai.
Menurut Bapanas, fluktuasi harga cabai rawit bersifat musiman dan kerap terjadi pada periode curah hujan tinggi yang mengganggu produksi di sentra hortikultura Jawa dan sebagian Sumatera.
Data Inflasi dari BPS
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi kontributor signifikan terhadap inflasi bulanan. Dalam rilis inflasi Januari 2026, BPS mencatat komoditas cabai rawit sebagai salah satu penyumbang inflasi terbesar di beberapa daerah.
BPS menjelaskan bahwa pergerakan harga cabai sangat cepat memengaruhi Indeks Harga Konsumen (IHK) karena komoditas ini dikonsumsi luas dan memiliki bobot dalam keranjang inflasi.
Mengapa Cabai Selalu Volatil?
Ada tiga faktor utama yang membuat cabai rawit mudah melonjak:
- Produksi bergantung cuaca. Curah hujan tinggi dapat merusak tanaman dan menurunkan hasil panen.
- Distribusi sensitif waktu. Cabai merupakan komoditas mudah rusak (perishable goods), sehingga gangguan logistik langsung memengaruhi pasokan pasar.
- Permintaan relatif stabil. Konsumsi cabai di Indonesia cenderung tinggi dan tidak mudah digantikan.
Karena itu, kenaikan harga cabai sering menjadi pemicu inflasi pangan jangka pendek, meskipun komoditas pokok lain seperti beras relatif stabil.
Prospek ke Depan
Bank Indonesia menyatakan akan terus bersinergi dengan pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas harga pangan. Upaya stabilisasi dilakukan melalui operasi pasar, distribusi stok dari daerah surplus, serta penguatan kerja sama antardaerah.
Jika pasokan dari sentra produksi mulai normal dan cuaca membaik, harga cabai rawit berpotensi terkoreksi dalam beberapa pekan ke depan. Namun, jika gangguan produksi berlanjut, tekanan harga masih bisa bertahan hingga akhir Februari.
Untuk saat ini, cabai rawit tetap menjadi indikator penting dalam memantau arah inflasi pangan nasional pada triwulan pertama 2026.***




1 Komentar