Pagi itu, Siti (38) berdiri lebih lama di depan lapak cabai. Angkanya melonjak. Telur pun ikut naik. Ramadan 1447 Hijriah baru berjalan beberapa hari, tetapi tekanan di dapur rumah tangga sudah terasa nyata.


Harga sejumlah bahan pangan strategis merangkak naik pada pekan pertama Ramadan. Dua komoditas yang paling terasa adalah cabai rawit merah dan telur ayam ras—bahan pokok yang nyaris tak tergantikan dalam menu sahur dan berbuka.

Berdasarkan Panel Harga Pangan Nasional milik Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga cabai rawit merah secara nasional mencapai sekitar Rp88.462 per kilogram, naik Rp8.591 dibanding hari sebelumnya. Telur ayam ras tercatat Rp31.889 per kilogram, naik Rp612. Data tersebut dikutip dari laporan Liputan6, Minggu (22/2/2026).

Kenaikan terjadi saat permintaan meningkat seiring awal puasa. Secara historis, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau hampir selalu menjadi penyumbang inflasi pada periode Ramadan dan Idulfitri. Komoditas hortikultura seperti cabai termasuk yang paling fluktuatif karena sangat bergantung pada pasokan harian dan kondisi cuaca.

Tekanan Nyata di Rumah Tangga

Bagi rumah tangga berpendapatan tetap, lonjakan komoditas sensitif berdampak langsung pada pengeluaran harian. Cabai bukan sekadar pelengkap; ia adalah fondasi rasa dalam banyak masakan Nusantara.

“Kalau cabai terus naik, pengeluaran dapur pasti ikut membengkak,” ujar Siti, ibu rumah tangga di Jakarta Selatan, kepada wartawan, Senin (23/2/2026).

Sebagian warga mulai menyesuaikan menu: mengurangi porsi, mengganti bahan, atau menunda pembelian dalam jumlah besar. Responsnya cepat. Tekanannya terasa harian.

Target Stabilisasi Pemerintah

Pemerintah menilai lonjakan bersifat sementara dan optimistis harga dapat terkoreksi seiring masuknya panen dari sentra produksi.

Menteri Pertanian yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menyatakan pemerintah membidik stabilisasi harga cabai rawit.

“Kami harapkan harga cabai rawit bisa kembali ke kisaran Rp58.000 sampai Rp60.000 per kilogram,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip Antara, baru-baru ini.

Menurutnya, intervensi distribusi dan penguatan pasokan dari daerah produksi terus dilakukan untuk meredam lonjakan di tingkat konsumen.

Stok Aman, Harga Belum Merata

Pemerintah memastikan stok pangan strategis cukup hingga Idulfitri. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyatakan ketersediaan pangan dalam kondisi terkendali.

“Kami memastikan stok pangan, termasuk MinyaKita, aman selama Ramadan,” katanya dalam keterangan yang dikutip Antara, Februari 2026.

Bulog menyalurkan MinyaKita dari gudang ke pasar dengan harga sekitar Rp14.500 per liter agar sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Namun di lapangan, disparitas harga masih terjadi. Sejumlah pelaku pasar dan organisasi pedagang, termasuk Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), sebelumnya menyoroti panjangnya rantai distribusi pangan yang berkontribusi terhadap selisih harga antara produsen dan konsumen. Komoditas hortikultura yang mudah rusak membuat biaya logistik dan risiko distribusi menjadi lebih tinggi.

Tekanan Belum Merata, Tapi Sensitif

Tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Data Bapanas mencatat beras premium sekitar Rp15.425 per kilogram, minyak goreng kemasan Rp19.831 per liter, dan MinyaKita Rp17.750 per liter. Artinya, tekanan harga belum merata di seluruh bahan pangan.

Meski demikian, cabai dan telur termasuk komoditas yang cepat memengaruhi persepsi inflasi masyarakat. Dalam struktur konsumsi rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah, porsi pengeluaran untuk makanan relatif besar. Jika kenaikan berlanjut dalam dua hingga tiga pekan ke depan, daya beli berpotensi tergerus lebih dalam—terutama pada periode konsumsi tinggi seperti Ramadan.

Ujian Daya Tahan Dapur

Pemerintah menyatakan akan memperkuat operasi pasar dan pengawasan distribusi agar harga tetap dalam batas wajar. Realisasi panen, kelancaran distribusi antarwilayah, serta efektivitas pengawasan menjadi faktor penentu arah harga pada pekan-pekan berikutnya.

Bagi banyak keluarga, pergerakan harga pada awal Ramadan ini menjadi sinyal awal: dapur rumah tangga harus lebih cermat berhitung. Di tengah janji stabilisasi, publik menanti satu hal sederhana—harga yang kembali bersahabat.***