Munggahan 2026 diwarnai lonjakan harga pangan, dengan daging sapi tembus Rp160.000/kg. Di tengah persiapan Ramadan 1447 H, warga terpaksa putar otak menjaga tradisi di tengah puncak inflasi pangan.


KOSONGSATU.ID – Senin sore ini, aroma rendang dan opor mulai tercium dari dapur-dapur warga. Di kalender sosial masyarakat Indonesia, hari ini adalah puncak tradisi Munggahan—momen berkumpul dan makan bersama keluarga sebelum memasuki pintu suci Ramadan. Namun, di balik keriuhan doa dan tawa, ada helaan napas panjang yang tertahan di pasar-pasar tradisional.

Pantauan di sejumlah pasar besar di Jakarta dan Depok sore ini menunjukkan angka yang membuat dahi berkerut: Harga daging sapi meroket hingga tembus Rp160.000 per kilogram. Angka ini bukan sekadar statistik inflasi, melainkan beban nyata bagi jutaan keluarga yang ingin menjaga tradisi di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.

Ritual Tahunan yang Kian Mahal Munggahan, yang secara filosofis berarti “naik” atau berpindah ke derajat yang lebih suci, kini seolah memiliki makna literal yang menyakitkan: kenaikan harga yang ugal-ugalan. Bukan hanya daging, harga cabai dan bawang pun ikut “berjamaah” naik, seolah tidak mau kalah menyambut bulan suci.