Masjid Muhammad Cheng Hoo Pandaan bukan petilasan Laksamana Cheng Ho, melainkan monumen toleransi. Masjid ikonik ini memadukan budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa sebagai ruang sosial inklusif.
KOSONGSATU.ID — Persepsi publik yang kerap mengira Laksamana Cheng Ho pernah menjejakkan kaki di wilayah Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, ternyata keliru. Masjid Muhammad Cheng Hoo yang berdiri megah di kawasan tersebut bukanlah sebuah petilasan, melainkan monumen penghormatan atas semangat toleransi sang laksamana Muslim asal Tiongkok dalam sejarah dakwah di Nusantara.
Kesalahpahaman sejarah ini sering kali muncul di tengah masyarakat karena arsitektur masjid yang sangat kental dengan nuansa Tiongkok. Namun, pihak pengurus menegaskan bahwa penamaan masjid ini murni sebagai bentuk dedikasi.
“Enggak ada kaitannya (secara langsung) sama Laksamana Cheng Ho. Namanya diambil karena beliau ini panglima Muslim yang toleran. Sebab, anak buahnya juga bukan orang muslim saja,” ungkap Abdul Hayyi dari Sekretariat Masjid Cheng Hoo Pandaan.
Gagasan pendirian ikon wisata religi dan simbol multikulturalisme ini pertama kali dicetuskan pada rentang tahun 2003 hingga 2004 oleh Bupati Pasuruan kala itu, H. Jusbakir Aldjufri. Melalui kolaborasi strategis dengan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), proyek ini mulai direalisasikan di atas lahan kosong seluas 6.000 meter persegi milik Perhutani. Masjid ini kemudian diresmikan secara formal penggunaannya pada tahun 2008.
Secara fisik, bangunan utama seluas 550 meter persegi ini merupakan mahakarya akulturasi tiga budaya: Tionghoa, Arab, dan Jawa. Atapnya bersusun layaknya pagoda dengan dominasi warna merah, hijau, dan kuning keemasan. Strukturnya terdiri dari dua lantai; lantai bawah difungsikan sebagai aula pertemuan terbuka, sementara lantai atas dikhususkan sebagai ruang salat utama.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid yang berada di titik temu jalur strategis Surabaya-Malang ini telah berevolusi menjadi ruang sosial yang inklusif. Identitas Tionghoa dan Islam berpadu menjadi fasilitas publik yang dihormati oleh semua golongan.



Tinggalkan Balasan