Sebaliknya, Portugis memanipulasi niat baik ini. Catatan arsip kolonial mencatat perjanjian ini secara sepihak dan arogan: “Certidão da capitulação d’el-rei de Sunda…” (Sertifikat penyerahan diri oleh Raja Sunda). Portugis mengklaim kedaulatan, padahal pejabat Kerajaan Sunda (Tumenggung, Adipati, Bendahara, dan Syahbandar) hanya mengesahkan ikatan ini melalui tradisi “selamatan” tanpa membubuhkan satu pun tanda tangan penyerahan wilayah.
Runtuhnya Rencana di Tepi Ciliwung
Kesepakatan itu pada akhirnya menjadi bumerang. Portugis terlalu lambat merespons persetujuan tersebut. Lebih jauh lagi, kabar persekutuan ini memicu pergerakan cepat dari kekuatan Islam di Jawa yang memang sangat membenci kolonialisme Portugis.
Rentetan kejatuhan Pajajaran pun terjadi dengan cepat. Sekitar tahun 1524, Sunan Gunung Jati dan Maulana Hasanuddin berhasil merangkul masyarakat Banten Girang. Menariknya, sejarawan Claude Guillot mencatat bahwa kejatuhan ini didukung oleh melemahnya kepemimpinan pasca-wafatnya Prabu Pucuk Umun, serta lobi internal tokoh seperti Ki Jong dan Agus Jo.
Akhir 1526, Hasanuddin membawa ribuan pasukan Demak merebut pelabuhan Banten. Pasukan ini bahkan menumpas pelaut kapal brigantin Portugis yang karam di sana. Puncaknya, pada tahun 1527, Fatahillah memimpin armada menguasai Sunda Kelapa sebelum Portugis sempat meletakkan satu bata pun untuk benteng mereka.
Mengupas Mitos Permusuhan Jawa dan Sunda
Satu narasi yang paling merusak dalam sejarah kita adalah anggapan bahwa Demak menyerang Sunda Kelapa karena dendam kesumat antara etnis Jawa dan Sunda—sering kali orang mengaitkannya dengan mitos pembantaian utusan Sunda di Peristiwa Bubat. Fakta historis dengan tegas membantah hal ini:
- Hilangnya Dendam Bubat: Saat bangsawan Sunda, Ameng Layaran, bertamasya ke Keraton Majapahit (sekitar 1474-1512), ia menceritakan hubungan yang sangat hangat. Tidak ada satu pun kalimat bernada kebencian dalam narasinya.
- Jejak Keakraban dalam Prasasti: Prasasti Pabanolan 1a (1381) membuktikan bahwa Rakyan Galuh menyambut kedatangan bangsawan Jawa di tanah Sunda dengan penghormatan tinggi.
- Target Utama Demak Bukan Sunda: Pada 1510-1512, Kesultanan Demak justru mengerahkan armada besarnya untuk menggempur Malaka, bukan tetangga mereka di barat.
Lantas, mengapa Demak akhirnya menggempur Sunda Kelapa? Jawabannya sederhana: Demak murni ingin mencegah militer penjajah Portugis mendirikan pangkalan di Pulau Jawa.



Tinggalkan Balasan