Satu bukti paling indah dari persaudaraan ini adalah proses negosiasinya. Untuk menghindari perang etnis yang berdarah, Kesultanan Cirebon—yang pendirinya masih memiliki darah bangsawan Sunda—melobi penguasa Demak. Mereka meminta agar urusan Pajajaran “diselesaikan oleh orang Sunda sendiri.”
Lobi ini terbukti ampuh. Faksi yang berafiliasi dengan Cirebon memimpin jalannya invasi. Setelah Sunda Kelapa jatuh, wilayah itu tidak dianeksasi menjadi tanah Jawa, melainkan tetap dikelola oleh pelanjut trah Sunda-Banten, seperti Maulana Hasanuddin. Demak tidak pernah berniat membumihanguskan peradaban Sunda; mereka hanya menutup pintu bagi penjajahan Eropa.
Membaca sejarah membutuhkan kedewasaan. Kerajaan Sunda tidak pernah melacurkan harga dirinya kepada Portugis; mereka hanya mengambil keputusan diplomasi paling rasional di tengah situasi yang menjepit. Begitu pula Kesultanan Demak, yang datang membawa pedang bukan karena membenci saudara Sundanya, melainkan demi menjaga Pulau Jawa dari cengkeraman bangsa asing. Batu Padrão kini berdiri diam, menanti kita memahami kisah pedih dan heroisme masa lalu dengan kacamata yang lebih adil.***
Daftar Pustaka
- Danasasmita, Saleh. (2003). Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran keur Nyawang ka Hareup. Bandung: Kiblat Buku Utama.
- Guillot, Claude. (2008). Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
- Tjandrasasmita, Uka. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Zahorka, Herwig. (2007). The Sunda Kingdoms of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Archives of Wangsakerta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.



Tinggalkan Balasan