Sejarah sering mengutuk Pajajaran bersekutu dengan Portugis. Nyatanya, ini murni strategi bertahan dari himpitan geopolitik.
KOSONGSATU. ID – Buku-buku sekolah sering kali menyederhanakan sebuah narasi besar: Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran) mengkhianati Nusantara karena berkongsi dengan penjajah Portugis. Kita sering membaca peristiwa ini semata-mata sebagai urusan dagang yang membutakan mata penguasa Sunda.
Namun, jika kita membedah fakta di balik sebongkah Batu Padrão, kita akan menemukan realitas yang jauh lebih menyesakkan. Kita akan melihat dinamika geopolitik yang rumit dan jerit jerih payah sebuah kerajaan lokal yang berusaha bertahan hidup di tengah kepungan ambisi kolonialisme global dan ekspansi kekuasaan baru. Mari kita luruskan narasi usang ini.
Fakta Padrão dan Kelicikan Administratif Portugis
Batu Padrão bukan sekadar tugu setinggi 165 sentimeter. Portugis menggunakan batu ini sebagai instrumen politik untuk menandai wilayah ekspansinya. Anda masih bisa melihat replikanya berdiri bisu di Museum Sri Baduga Bandung, berjejer dengan Prasasti Kawali.
Di bagian atas batu ini, Portugis memahat Armillary Sphere—simbol khas ambisi Raja João II dan Manuel I yang menyiratkan harapan Portugal menguasai dunia. Di bawahnya, menganga ukiran aksara Gotik yang memuat singkatan DSPOR (Do Senhario de Portugal) yang berarti “Penguasa Portugal”. Utusan dari Malaka, Enrique Leme, menancapkan batu ini pada 21 Agustus 1522 di mulut Sungai Ciliwung.
Strategi Surawisesa: Menukar Lada demi Nyawa
Sejarah keliru mencatat Perjanjian 1522 ini sebagai bentuk ketundukan. Raja Kerajaan Sunda saat itu, Sanghyang Surawisesa, menjalin kesepakatan murni sebagai strategi pertahanan geopolitik.
Kala itu, Pakuan Pajajaran tengah melemah. Di sisi lain, Kesultanan Demak terus memperluas pengaruhnya. Surawisesa melihat Portugis memiliki persenjataan modern. Ia pun menawarkan 1.000 karung lada setiap tahun dan mengizinkan Portugis membangun benteng di Sunda Kelapa. Surawisesa berharap benteng ini mampu menjadi tameng yang menahan laju pasukan Demak.
Sebaliknya, Portugis memanipulasi niat baik ini. Catatan arsip kolonial mencatat perjanjian ini secara sepihak dan arogan: “Certidão da capitulação d’el-rei de Sunda…” (Sertifikat penyerahan diri oleh Raja Sunda). Portugis mengklaim kedaulatan, padahal pejabat Kerajaan Sunda (Tumenggung, Adipati, Bendahara, dan Syahbandar) hanya mengesahkan ikatan ini melalui tradisi “selamatan” tanpa membubuhkan satu pun tanda tangan penyerahan wilayah.
Runtuhnya Rencana di Tepi Ciliwung
Kesepakatan itu pada akhirnya menjadi bumerang. Portugis terlalu lambat merespons persetujuan tersebut. Lebih jauh lagi, kabar persekutuan ini memicu pergerakan cepat dari kekuatan Islam di Jawa yang memang sangat membenci kolonialisme Portugis.
Rentetan kejatuhan Pajajaran pun terjadi dengan cepat. Sekitar tahun 1524, Sunan Gunung Jati dan Maulana Hasanuddin berhasil merangkul masyarakat Banten Girang. Menariknya, sejarawan Claude Guillot mencatat bahwa kejatuhan ini didukung oleh melemahnya kepemimpinan pasca-wafatnya Prabu Pucuk Umun, serta lobi internal tokoh seperti Ki Jong dan Agus Jo.
Akhir 1526, Hasanuddin membawa ribuan pasukan Demak merebut pelabuhan Banten. Pasukan ini bahkan menumpas pelaut kapal brigantin Portugis yang karam di sana. Puncaknya, pada tahun 1527, Fatahillah memimpin armada menguasai Sunda Kelapa sebelum Portugis sempat meletakkan satu bata pun untuk benteng mereka.
Mengupas Mitos Permusuhan Jawa dan Sunda
Satu narasi yang paling merusak dalam sejarah kita adalah anggapan bahwa Demak menyerang Sunda Kelapa karena dendam kesumat antara etnis Jawa dan Sunda—sering kali orang mengaitkannya dengan mitos pembantaian utusan Sunda di Peristiwa Bubat. Fakta historis dengan tegas membantah hal ini:
- Hilangnya Dendam Bubat: Saat bangsawan Sunda, Ameng Layaran, bertamasya ke Keraton Majapahit (sekitar 1474-1512), ia menceritakan hubungan yang sangat hangat. Tidak ada satu pun kalimat bernada kebencian dalam narasinya.
- Jejak Keakraban dalam Prasasti: Prasasti Pabanolan 1a (1381) membuktikan bahwa Rakyan Galuh menyambut kedatangan bangsawan Jawa di tanah Sunda dengan penghormatan tinggi.
- Target Utama Demak Bukan Sunda: Pada 1510-1512, Kesultanan Demak justru mengerahkan armada besarnya untuk menggempur Malaka, bukan tetangga mereka di barat.
Lantas, mengapa Demak akhirnya menggempur Sunda Kelapa? Jawabannya sederhana: Demak murni ingin mencegah militer penjajah Portugis mendirikan pangkalan di Pulau Jawa.
Satu bukti paling indah dari persaudaraan ini adalah proses negosiasinya. Untuk menghindari perang etnis yang berdarah, Kesultanan Cirebon—yang pendirinya masih memiliki darah bangsawan Sunda—melobi penguasa Demak. Mereka meminta agar urusan Pajajaran “diselesaikan oleh orang Sunda sendiri.”
Lobi ini terbukti ampuh. Faksi yang berafiliasi dengan Cirebon memimpin jalannya invasi. Setelah Sunda Kelapa jatuh, wilayah itu tidak dianeksasi menjadi tanah Jawa, melainkan tetap dikelola oleh pelanjut trah Sunda-Banten, seperti Maulana Hasanuddin. Demak tidak pernah berniat membumihanguskan peradaban Sunda; mereka hanya menutup pintu bagi penjajahan Eropa.
Membaca sejarah membutuhkan kedewasaan. Kerajaan Sunda tidak pernah melacurkan harga dirinya kepada Portugis; mereka hanya mengambil keputusan diplomasi paling rasional di tengah situasi yang menjepit. Begitu pula Kesultanan Demak, yang datang membawa pedang bukan karena membenci saudara Sundanya, melainkan demi menjaga Pulau Jawa dari cengkeraman bangsa asing. Batu Padrão kini berdiri diam, menanti kita memahami kisah pedih dan heroisme masa lalu dengan kacamata yang lebih adil.***
Daftar Pustaka
- Danasasmita, Saleh. (2003). Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran keur Nyawang ka Hareup. Bandung: Kiblat Buku Utama.
- Guillot, Claude. (2008). Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
- Tjandrasasmita, Uka. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Zahorka, Herwig. (2007). The Sunda Kingdoms of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Archives of Wangsakerta. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.





Tinggalkan Balasan