Cuaca ekstrem Februari 2026 membuka borok ekologis Pasuruan. Hutan di hulu kritis, lumpur melumpuhkan Jalur Pantura. Ini bukan sekadar bencana, melainkan alarm keras tata ruang yang diabaikan.


KOSONGSATU.ID — Di atas kertas, rentetan cuaca ekstrem yang menerjang Kabupaten Pasuruan sepanjang pertengahan Februari 2026 mungkin hanya tercatat sebagai anomali iklim. Namun, bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan para sopir truk logistik yang terjebak berjam-jam di Jalur Pantura, ini adalah bukti nyata dari sebuah bom waktu ekologis yang akhirnya meledak.

Rentetan peristiwa ini bukan sekadar “nasib buruk” akibat cuaca, melainkan harga mahal yang harus dibayar dari masifnya alih fungsi hutan dan meluasnya lahan kritis di kawasan dataran tinggi Pasuruan.

Petaka ini mulai menunjukkan dampaknya secara brutal pada 14 Februari 2026. Hujan lebat disertai angin kencang menghantam dua topografi yang berbeda sekaligus: kawasan pesisir di Kecamatan Rejoso dan dataran tinggi di Kecamatan Tutur.

Di Dusun Nongkojajar, Desa Wonosari, angin menumbangkan pohon-pohon besar dan mengorbankan satu ekor sapi milik warga. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, mengonfirmasi dampak kerusakan fisik yang dialami masyarakat.

“Rinciannya, sembilan rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sementara satu rumah dilaporkan rusak berat. Selain itu, satu bangunan madrasah juga mengalami rusak ringan,” tegas Sugeng melalui keterangan resminya.

Namun, kerusakan di kawasan hulu ternyata baru babak permulaan. Puncaknya terjadi empat hari kemudian, pada 18 Februari 2026. Kawasan hilir menerima “kiriman” dari pegunungan yang tak lagi mampu menahan air.

Sungai Petung meluap tak terkendali. Limpasan air yang pekat oleh lumpur menutupi Jalur Pantura Pasuruan–Probolinggo. Jalur yang menjadi urat nadi ekonomi dan distribusi logistik antarprovinsi itu lumpuh total dan terpaksa ditutup sementara.

Tim BPBD harus berjibaku hingga dini hari untuk menyemprot dan membersihkan sisa lumpur agar roda ekonomi darat kembali berputar.