Sumur, Bata, dan Waktu
Keberadaan Banyu Penguripan di Menara Kudus kerap dibalut kisah-kisah lisan. Ulama setempat, Khoiruzzad, menuturkan cerita masa kecil ayahnya, Kyai Turaichan: benang layang-layang dengan bandul batu dijulurkan dari puncak menara hingga terdengar bunyi “plung”. Namun saat ditarik, benang itu tetap kering.
Kini lubang di puncak menara telah ditutup. Tetapi maknanya bertahan.
Dari sisi ilmiah, Denny Nur Hakim, pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, menyampaikan penjelasan yang lebih fungsional. Di bawah menara terdapat sumur yang berperan mengatur temperatur dan kelembapan bangunan bata.
“Bangunan bata mudah lapuk jika tak dijaga,” katanya, merujuk pada kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya. “Fakta bahwa menara ini bertahan lebih dari 500 tahun menunjukkan adanya sistem pengendalian lingkungan.”
Air, dalam hal ini, menjadi penjaga waktu. Diam, tak terlihat, tetapi menentukan daya tahan peradaban.
51 Sumber, Satu Kesadaran
Gagasan Banyu Penguripan tidak berhenti di menara. Penelitian mahasiswa Universitas Gadjah Mada dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2023 menemukan jaringan kosmologis yang lebih luas: 51 sumber air—belik dan sendang—yang tersebar di Kudus.
Tim lintas disiplin itu meneliti Sendang Widodari di Menawan, Gebog, hingga Sendang Dewot di Wonosoco, Undaan. Mereka bertemu juru pelihara, tokoh adat, pengelola yayasan, PDAM, hingga pemerintah desa.
Hasilnya menunjukkan satu benang merah: air dipandang suci dan harus dihormati. Ia hidup dalam cerita rakyat, ritual, dan tata kelola berbasis keberlanjutan.
“Masyarakat Kudus memiliki hubungan emosional dan spiritual yang kuat dengan air,” kata Tiyo Ardianto, ketua tim peneliti. “Belik dan sendang adalah warisan leluhur yang dijaga lintas generasi.”
Ironinya, di tengah kearifan itu, Kudus diproyeksikan menghadapi krisis air bersih pada 2032. Ancaman itu datang dari perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan tekanan demografis.
Tradisi yang Masih Bernapas
Di titik inilah tradisi Laku Banyu Penguripan menemukan relevansinya. Setiap peringatan Ta’sis Menara Kudus, air dari punden, belik, makam para wali, hingga air zamzam dikirab—disatukan bersama 19 khataman Al-Qur’an.
Sekretaris Paguyuban Punden dan Belik Kudus, Abdul Jalil, menegaskan ritual ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat kolektif tentang perjalanan spiritual dan tanggung jawab ekologis.
Sebanyak 554 kendi air kemudian dibagikan kepada masyarakat. Sebuah gestur simbolik, sekaligus pesan: air adalah milik bersama, dan masa depan bergantung pada cara kita menjaganya.
Pada akhirnya, Banyu Penguripan mengajarkan satu hal yang sering dilupakan zaman modern—bahwa solusi masa depan kerap tersembunyi dalam kebijaksanaan masa lalu. Kudus, lewat warisan Sunan Kudus, seolah sedang mengingatkan dunia: krisis air bukan hanya soal teknologi, tetapi soal etika.***





Tinggalkan Balasan