Jauh sebelum krisis air bersih menjadi kosa kata global, Sunan Kudus telah menanamkan satu pelajaran sederhana namun visioner: air bukan sekadar sumber hidup, melainkan amanah peradaban.
KOSONGSATU.ID—Nama aslinya Sunan Kudus, atau Syekh Ja’far Shadiq, kerap dikenang sebagai wali yang piawai merajut Islam dengan kebudayaan setempat. Tetapi di balik toleransi dan strategi dakwahnya, tersimpan warisan lain yang hari ini terasa kian relevan—Banyu Penguripan, sebuah etika ekologis yang memadukan spiritualitas, ekonomi, dan keberlanjutan.
Jejak paling kasatmata dari gagasan itu berdiri tegak di jantung Kota Kudus: Menara Kudus. Menara bercorak candi Hindu itu bukan sekadar simbol akulturasi arsitektur, melainkan penanda cara pandang terhadap air. Di bawahnya, menurut keyakinan masyarakat, mengalir dua sumber mata air yang disebut Banyu Penguripan—air penghidupan.
Air sebagai Jalan Tengah
Sunan Kudus hidup dalam lanskap masyarakat yang telah lama memuliakan air. Tradisi Hindu mengenal tirta sebagai sarana pensucian, sementara masyarakat agraris Jawa bergantung pada banyu untuk sawah dan kehidupan sehari-hari. Alih-alih meniadakan, Sunan Kudus memilih menjembatani.
Dalam kosmologi lokal, banyu berfungsi sosial—mengairi ladang, menopang hidup. Tirtaberfungsi spiritual—menghubungkan manusia dengan Yang Ilahi. Banyu Penguripanmerangkum keduanya. Air menjadi instrumen ekonomi sekaligus medium makna.
Buku Kosmologi Banyu Penguripan (2019), terbitan Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, mencatat posisi Sunan Kudus sebagai tokoh dagang penting di era Demak. Ia memahami betul ketergantungan masyarakat pada air—bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk beribadah. Maka, air harus dijaga, dirawat, dan dimaknai.
Kemakrufan Ekologis
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara), Dr. Purwadi, M.Hum, menyebut ajaran Sunan Kudus sebagai praktik amar makruf nahi munkar di bidang lingkungan. Wasiatnya untuk mencegah penebangan liar di kawasan Gunung Kendeng—wilayah dengan jati berkualitas tinggi—adalah contoh nyata.
“Kayu jati sebagai komoditas harus diatur ketat,” ujar Purwadi. “Itulah cara Sunan Kudus memayu hayuning bawana—merawat keindahan dan keseimbangan dunia.”
Ekologi dan ekonomi tidak dipertentangkan. Keduanya dijaga dalam batas kewajaran. Alam bukan objek eksploitasi, melainkan mitra hidup.
Sumur, Bata, dan Waktu
Keberadaan Banyu Penguripan di Menara Kudus kerap dibalut kisah-kisah lisan. Ulama setempat, Khoiruzzad, menuturkan cerita masa kecil ayahnya, Kyai Turaichan: benang layang-layang dengan bandul batu dijulurkan dari puncak menara hingga terdengar bunyi “plung”. Namun saat ditarik, benang itu tetap kering.
Kini lubang di puncak menara telah ditutup. Tetapi maknanya bertahan.
Dari sisi ilmiah, Denny Nur Hakim, pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, menyampaikan penjelasan yang lebih fungsional. Di bawah menara terdapat sumur yang berperan mengatur temperatur dan kelembapan bangunan bata.
“Bangunan bata mudah lapuk jika tak dijaga,” katanya, merujuk pada kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya. “Fakta bahwa menara ini bertahan lebih dari 500 tahun menunjukkan adanya sistem pengendalian lingkungan.”
Air, dalam hal ini, menjadi penjaga waktu. Diam, tak terlihat, tetapi menentukan daya tahan peradaban.
51 Sumber, Satu Kesadaran
Gagasan Banyu Penguripan tidak berhenti di menara. Penelitian mahasiswa Universitas Gadjah Mada dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2023 menemukan jaringan kosmologis yang lebih luas: 51 sumber air—belik dan sendang—yang tersebar di Kudus.
Tim lintas disiplin itu meneliti Sendang Widodari di Menawan, Gebog, hingga Sendang Dewot di Wonosoco, Undaan. Mereka bertemu juru pelihara, tokoh adat, pengelola yayasan, PDAM, hingga pemerintah desa.
Hasilnya menunjukkan satu benang merah: air dipandang suci dan harus dihormati. Ia hidup dalam cerita rakyat, ritual, dan tata kelola berbasis keberlanjutan.
“Masyarakat Kudus memiliki hubungan emosional dan spiritual yang kuat dengan air,” kata Tiyo Ardianto, ketua tim peneliti. “Belik dan sendang adalah warisan leluhur yang dijaga lintas generasi.”
Ironinya, di tengah kearifan itu, Kudus diproyeksikan menghadapi krisis air bersih pada 2032. Ancaman itu datang dari perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan tekanan demografis.
Tradisi yang Masih Bernapas
Di titik inilah tradisi Laku Banyu Penguripan menemukan relevansinya. Setiap peringatan Ta’sis Menara Kudus, air dari punden, belik, makam para wali, hingga air zamzam dikirab—disatukan bersama 19 khataman Al-Qur’an.
Sekretaris Paguyuban Punden dan Belik Kudus, Abdul Jalil, menegaskan ritual ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat kolektif tentang perjalanan spiritual dan tanggung jawab ekologis.
Sebanyak 554 kendi air kemudian dibagikan kepada masyarakat. Sebuah gestur simbolik, sekaligus pesan: air adalah milik bersama, dan masa depan bergantung pada cara kita menjaganya.
Pada akhirnya, Banyu Penguripan mengajarkan satu hal yang sering dilupakan zaman modern—bahwa solusi masa depan kerap tersembunyi dalam kebijaksanaan masa lalu. Kudus, lewat warisan Sunan Kudus, seolah sedang mengingatkan dunia: krisis air bukan hanya soal teknologi, tetapi soal etika.***






Tinggalkan Balasan