Arus Kekerasan yang Menjadi Biasa

Bagi Radius Setiyawan, Pengkaji Budaya dan Media dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, eskalasi ini bergerak cepat karena anak-anak hidup dalam ekosistem digital yang melampaui kemampuan reflektif mereka. Arus konten kekerasan—dari ideologi ekstrem, ujaran kebencian, hingga glorifikasi pembunuhan—mengalir tanpa jeda. “Kekerasan perlahan dinormalisasi dalam keseharian digital anak,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).

Radius melihat algoritma media sosial sebagai akselerator. Logika “kami versus mereka” diperkuat oleh rekomendasi berantai, membuat ujaran kebencian dan kekerasan tampil bukan sebagai penyimpangan, melainkan rutinitas. Anak sebagai digital native bergerak cepat, tetapi jarang diberi ruang untuk berhenti sejenak—untuk bertanya, meragukan, atau menimbang makna.

Di titik ini, pendekatan sensor dan pelarangan dinilai tak lagi memadai. Sensor bekerja di permukaan, sementara kekerasan digital bergerak pada tempo distribusi yang jauh lebih cepat dari kemampuan anak untuk mencerna. Radius mendorong literasi digital reflektif: bukan sekadar keterampilan teknis menggunakan platform, melainkan kemampuan membaca konteks, menunda reaksi, dan menilai sebelum membenarkan atau membagikan.

Ia menyebut kebutuhan akan reflective pause—jeda berpikir—sebagai benteng awal. Jeda itu memungkinkan anak tidak langsung terseret viralitas dan emosi instan, serta menyadari bahwa tidak semua konten perlu direspons. Dari sini, fokus kebijakan seharusnya bergeser: dari sekadar menyaring konten menuju pengaturan tempo digital—memperlambat eskalasi, menata ritme, dan mencegah kekerasan sebelum menjelma tindakan.

Pendidikan sebagai Penjaga Waktu

Di tengah kecepatan algoritma, pendidikan memikul beban berat. Radius menekankan orientasi pembelajaran yang membangun nalar reflektif. Pendidikan yang gagal, katanya, akan selalu kalah oleh mesin rekomendasi yang tak pernah lelah. Tanggung jawab pun tak bisa dipikul satu pihak. Pemerintah, institusi pendidikan, dan keluarga—ruang sosial terkecil—harus bergerak bersama.

Temuan Densus 88 menutup satu bab, sekaligus membuka pertanyaan yang lebih luas: ketika kekerasan menjadi tontonan yang terasa akrab, siapa yang mengajarkan anak untuk berhenti, menatap ulang layar, dan memilih jalan lain? Di ruang digital yang kian bising, mungkin yang paling langka bukanlah sinyal, melainkan jeda.***